Hoax: Semua Orang Tidak Luput dari Kebohongan

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 433 views

Hoax: Semua Orang Tidak Luput dari Kebohongan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Film karya Ifa Isfansyah yang ini menguji nalar kita.

Tidak hanya menghibur, film juga kerap kali menuntut kita untuk memutar otak. Misalnya, film dengan interpretasi unik pembuatnya, seperti Triangle atau Inception. Hingga film selesai pun, tema dan mungkin ending-nya menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Beberapa sineas Indonesia pun kerap membuat film serupa, misalnya Joko Anwar, Mouly Surya, Upi, dan masih banyak lagi.

Ifa Isfansyah rupanya juga tidak mau ketinggalan mengajak penonton berpikir melalui film terbarunya, Hoax. Sempat dikabarkan akan rilis pada tahun 2012, film yang berjudul lama Rumah dan Musim Hujan ini baru sempat dirilis pada 2018 ini. Perjalanan yang sangat panjang untuk sebuah film hingga akhirnya rilis di layar lebar.

Hoax mengisahkan tiga orang bersaudara. Raga (Tora Sudiro), Ragil (Vino Bastian), dan Adek (Tara Basro). Mereka diundang berbuka puasa di rumah sang Ayah (Landung Simatupang). Dari sini, satu per satu kita mulai diperkenalkan kepada masing-masing tokoh. Adek ternyata tinggal bersama Ibu (Jajang C. Noer) di rumah yang berbeda, Raga membawa pacar barunya untuk diperkenalkan kepada Ayahnya, dan Ragil yang masih tinggal di rumah tua itu bersama Ayah.

Menonton dengan fokus. Itulah yang harus kita ingat saat masuk ke dalam bioskop dan film sudah dimulai. Meski terkesan seperti drama biasa yang kisahnya berpindah-pindah antara Raga, Ragil, dan Adek, namun kita dijamin bingung. Simak juga percakapan tiap-tiap tokoh karena bisa menjadi kunci bagi film ini.


Perlu diingat juga tagline film ini adalah “siapa yang bohong?”. Kalimat ini sendiri bisa menjadi pemicu perdebatan. Memang, dari semua kejadian yang dialami oleh ketiga tokohnya, masing-masing memiliki unsur bohong. Ragil yang membohongi Bapak, mantan kekasih Raga yang datang , dan kebohongan “sosok” Ibu terhadap Adek. Namun, ada satu lagi hal yang bisa jadi pertanyaan: mungkinkah salah satu dari ketiga cerita tersebut tidak pernah terjadi alias hanya dalam imajinasi tokohnya saja? Kemungkinan ini bisa saja muncul karena setelah serangkaian kejadian, ketiganya kembali ke meja makan Bapak seakan tidak terjadi apa-apa. Masih dengan raut wajah datar dan gerakan statis.

Jadi, siapakah yang berbohong? Film ini jelas takkan memaparkannya dengan gamblang. Penonton diminta berpikir dan menebak. Apakah tebakan tersebut benar atau tidak, penonton juga tidak tahu.

Hoax memang bukan film sejuta umat yang bisa ditonton begitu saja dan keluar dari bioskop tanpa membawa apa-apa. Hoax akan membuat pikiran kita terkulik dan terbayang-bayang setiap adegan. Meski jarak antara perilisan dan pembuatan film ini cukup jauh, namun karya Ifa Isfansyah ini termasuk ke dalam salah satu film Indonesia cerdas yang sudah jarang muncul di ranah perfilman Indonesia.