Murder on the Orient Express Terjebak dalam Drama Opera Sabun

by Irna Gayatri 358 views

Murder on the Orient Express Terjebak dalam Drama Opera Sabun
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Karakter detektif kesayangan Agatha Christie, Hercule Poirot, hadir dalam kisah pembunuhan klasik dalam kereta mewah menuju London.

Salah satu elemen paling penting dalam sebuah adaptasi adalah karakter. Namun, penggarapan karakter yang baik saja tak cukup untuk membuat sebuah film adaptasi menjadi karya yang sukses. Hal inilah yang dirasakan setelah saya menonton adaptasi yang paling saya nanti tahun ini, Murder on the Orient Express.

Mengisahkan tentang Hercule Poirot, detektif ulung asal Belgia dengan kepribadian unik, yang harus menuju ke London dari Istanbul menggunakan Orient Express, namun malah menemukan sebuah kasus pembunuhan dalam perjalanannya. Dikejar waktu, Poirot pun harus memecahkan kasus tersebut dengan seluruh penumpang menjadi tersangkanya dan tentunya salah satu dari mereka adalah pembunuhnya.

Untuk sebuah film tentang pembunuhan, film ini bertabur begitu banyak bintang kenamaan, seperti Judi Dench, Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Willem Dafoe, Penelope Cruz, dan Daisy Ridley. Ya, terlalu banyak untuk peran-peran yang tidak menonjol dan mudah terlupakan. Namun, penampilan Depp dan Pfeiffer patut jadi sorotan karena keduanya sukses membangun konflik yang dibutuhkan di awal film.


Bagi penggemar novel-novel Agatha Christie, tentu kemunculan karakter kesayangan mereka, Hercule Poirot, adalah satu hal yang paling utama disorot. Dan dalam hal ini, Kenneth Branagh cukup berhasil membawakan sosok Poirot dengan logatnya yang kental dan kemampuan analisis yang tajam. Poirot yang perfeksionis, menjunjung tinggi keadilan, dan punya tawa yang khas benar-benar berhasil dibawakan secara alami oleh Branagh. Sayangnya—terlepas dari kenyataan bahwa secara fisik Branagh sama sekali jauh dari kriteria mirip Poirot—sebagai detektif ulung, Poirot juga tampil terlalu banyak bicara dalam film ini yang membuatnya lebih terlihat seperti Sherlock Holmes.

Beruntunglah kita, Brannagh meski hampir keseluruhan film diambil di atas kereta, Branagh dengan lihai memainkan kameranya dari sudut ke sudut, membuat sebagian besar adegan di atas kereta yang berpotensi membosankan jadi cukup asyik diikuti. Pengambilan gambar dari atas bilik kamar satu ke kamar lainnya sampai close up yang dilakukan saat menginvestigasi, Branagh sungguh mengeksplorasi pergerakan kameranya dan membuat film ini asyik diikuti.


Scoring-nya tak ada yang istimewa, namun cukup berhasil membangun suasana klasik film yang berlatar waktu tahun 1934 ini. Namun, film ini berhasil menggambarkan detail Orient Express dengan baik, begitu pun dengan para penumpang di dalamnya. Yang menarik adalah unsur aksi yang ditambahkan dalam film ini yang dan cukup berhasil mengikat penonton di pertengahan film. Lalu, meski tak dimulai dari Aleppo, Michael Green, sang penulis skenario, cukup jeli mengangkat kasus yang melibatkan tiga agama di Yerusalem sebagai pembuka yang menarik.

Sebagai sebuah adaptasi, Murder on the Orient Express merupakan adaptasi yang cukup jujur, dengan sedikit tambahan yang menambah drama di dalamnya. Sayangnya, menjelang akhir, drama ini dibuat terlalu berlarut-larut, membuat film berdurasi 114 menit ini jadi terasa begitu panjang pada 1/3 bagian terakhir. Belum lagi kehidupan cinta Poirot yang cukup dijadikan highlight, namun sebetulnya bukanlah bagian penting yang dapat memengaruhi keseluruhan cerita. Ada drama yang tak dibutuhkan dalam film ini dan sayangnya hal itu membuat film ini mulai membosankan memasuki pertengahan.


Murder on the Orient Express pernah dibuat pada 1974 oleh mendiang Sidney Lumet dan memenangkan piala Oscar untuk Ingrid Bergman sebagai Best Supporting Actress. Jika dihitung dengan serial televisi pada 2001 dan 2010, film karya Branagh ini adalah adaptasi keempat. Novelnya sendiri disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik Agatha Christie karena merupakan yang pertama mengeksplorasi pembunuhan di atas kereta mewah lintas negara.

Untuk penggemar Agatha Christie, film ini tentu bukan film yang buruk dan masih bisa dinikmati. Remake ini bahkan bisa dibilang patut jadi tontonan wajib untuk mereka yang menggemari novel-novel Christie. Namun, sebagai sebuah film utuh, Murder on the Orient Express terjebak dalam drama opera sabun yang seharusnya tak menjadi fokus dalam sebuah kisah detektif, khususnya dengan Poirot di dalamnya.