Escape Room Jadi Saw yang Lebih Ringan

by Irna Gayatri 166 views

Escape Room Jadi Saw yang Lebih Ringan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Terjebak dalam ruangan tertutup dan menghadapi kematian satu per satu terdengar cukup formulaik.

Lionsgate mungkin memang telah membuat salah satu film horor paling ikonis pada 2004, yaitu Saw. Akibatnya, tak heran jika film horor setelahnya yang mengangkat tema serupa akan dianggap mengikuti jejak Saw. Hal inilah yang juga terjadi kepada Escape Room, sebuah film garapan Will Wernick yang menyajikan orang-orang yang “terperangkap” dan harus mencari jalan keluar sebelum waktu yang ditentukan, atau mereka semua akan mati.

Escape Room mengisahkan Tyler (Evan Williams) yang mendapatkan hadiah ulang tahun dari kekasihnya, Christen (Elisabeth Hower), berupa tiket mengikuti permainan Escape Room. Bersama empat sahabat lainnya, mereka harus memecahkan teka-teki untuk keluar dari ruangan tertutup itu dalam waktu satu jam. Permainan masih terasa menyenangkan pada awalnya, sampai mereka mengetahui bahwa yang mereka hadapi adalah sesuatu yang serius. Tyler pun harus menerima kenyataan bahwa dia harus keluar dari situ atau mati.


Film yang berdurasi kurang dari 90 menit ini memberikan hiburan dengan cara yang idealnya bisa ditemukan dalam Saw. Namun, terkait durasi, film ini benar-benar memberikan ketegangan langsung. Keenam sahabat itu harus keluar dalam waktu satu jam dan satu jam itulah yang diberikan kepada penonton. Film ini juga dibuka dengan ketegangan yang cukup, meski kisahnya masih membingungkan. Tapi, pembukanya cukup menarik.

Kebosanan justru datang setelahnya, saat ketujuh sahabat berkumpul di sebuah restoran untuk merayakan ulang tahun Tyler. Seharusnya bagian ini menjadi bagian yang penting untuk memperkenalkan karakter setiap individu dalam lingkaran persahabatan tersebut. Sayangnya, akting yang kurang mumpuni membuat pengenalan ini justru terlihat hambar. Karakter yang ingin ditonjolkan tak berhasil disampaikan dengan baik oleh para aktornya.

Untungnya, secara garis besar, tak ada masalah dengan plotnya karena memang film ini menyajikan satu jam penuh berada di dalam sebuah permainan Escape Room. Yang menarik justru adalah film ini berhasil membuat penonton menikmati permainan ‘terperangkap-dalam-ruangan’ pada awalnya, kemudian ngeri setelahnya. Permainannya dirangkai dengan cukup cerdas dan seharusnya berhasil membangun karakter Tyler dengan baik—jika diperankan dengan baik oleh aktornya. Sekali lagi, plot yang baik tetap harus diimbangi akting yang mumpuni.


Selanjutnya, terkait sinematografi, sudut pengambilan gambar pada 15 menit pertama film cukup memusingkan dan membuat perasaan tak nyaman. Namun, setelahnya, sama sekali tak ada masalah. Kamera yang digunakan juga tak terlalu gelap sehingga ironi yang ingin ditampilkan cukup terasa: semua hanya permainan sampai mereka mati satu per satu. Memang ada cukup banyak darah dalam film ini, namun tak semengerikan Saw (2004), Cabin Fever (2002), atau Final Destination (2000).

Terkait hal ini, Escape Room memang terasa seperti Saw, namun dengan adegan mengerikan yang lebih sedikit dan tentu saja lebih ringan. Karena itulah, ketegangan yang telah dibangun pada awalnya justru melemah setelahnya sampai menjelang akhir film. Jika fokus untuk membangun karakter, tentu film ini akan jadi lebih menarik. Biar bagaimana pun, terperangkap dalam ruang tertutup merupakan cara terbaik mempermainkan sisi kejiwaan seseorang. Dalam hal ini, Escape Room belum bisa dibilang berhasil menghadirkan permainan psikologis tersebut. Akhirnya, film ini hanya jadi Saw yang lebih ringan.

Escape Room sudah mulai tayang pada 13 September 2017 dan bisa ditonton di jaringan CGV Cinemas seluruh Indonesia.