Battleship Island: Perjuangan Tak Kenal Lelah untuk Bebas dari Penjajahan

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 259 views

Battleship Island: Perjuangan Tak Kenal Lelah untuk Bebas dari Penjajahan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Kebebasan butuh pengorbanan

Lagi, negara tetangga kita di Asia membuat sebuah film yang fenonemal. Korea Selatan semakin maju dalam perfilman Asia dan tampaknya sudah menggeser dominasi film-film Jepang. Perlawanan terhadap Jepang ini juga yang menjadi inti cerita dari Battleship Island dan menjadi film termahal serta terbesar dalam sejarah perfilman Korea Selatan. Sutradara veteran Korea Selatan Ryoo Seung-wan menjadi aktor utama di belakang layar untuk mewujudkan film yang dilarang tayang di Jepang ini. Kisah utama Battleship Island adalah detik-detik kaburnya para tahanan asal Korea Selatan dari pulau tambang batubara Hashima milik Jepang. Berlatar tahun 1945,  saat Jepang menjadi negara penjajah, sudah pasti kisah patriotisme akan kental ditampilkan dalam film ini. Walau terinspirasi dari kisah nyata, sang sutradara menyatakan banyak dari adegan film ini yang merupakan fiksi.

Ada beberapa karakter utama dalam film ini. Kisah mereka saling bertaut hingga akhirnya bersama-sama bersatu untuk lepas dari jeratan kekejaman. Pertama, ada karakter Lee Kang Kok (Hwang Jung Min) seorang ketua band yang ingin ke Jepang untuk hidup tenang bersama putrinya. Namun, dia malah dikirim ke kamp kerja paksa Hashima. Di sana, dia bertemu Choi Chil Sung (So Ji Sub), seorang gangster yang suka memberontak, namun baik hati dengan sesama Korea. Dia jatuh cinta dengan Oh Mal-nyeon (Lee Jung-hyun), wanita PSK yang sudah sering teraniaya, tapi masih menyimpan harapan untuk hidup enak. Mereka ditangkap dan dibawa untuk kerja paksa hingga bertemu dengan Park Moo-young (Song Joong-ki), intel yang menyusup untuk membebaskan sandera orang penting.

Bukan film Korea namanya jika tidak bisa mengaduk-aduk emosi penonton. Semua kesedihan dan kebahagiaan silih berganti tampil di layar. Namun, selipan beberapa adegan kekerasan juga membuat penonton mengernyitkan kening. Diibaratkan makanan, penonton mendapatkan paket lengkap dalam satu sajian. Tidak hanya dari segi cerita, sisi teknisnya juga tidak kalah hebat. Demi memberi kesan otentik dan latar yang sesuai dengan zamannya, tak tanggung-tanggung kru produksi sampai membuat set yang sangat besar untuk keperluan syuting. Set yang terbesar dalam sejarah perfilman Korea Selatan ini mengikuti bentuk asli dari pulau tambang Hashima. Dengan ukuran sepertiga dari ukuran aslinya, bisa dipastikan skala pembuatan film ini tidak main-main dan semua elemen yang terlibat memberikan usaha terbaik. 


Dengan set yang sangat besar maka pengambilan gambarpun bisa maksimal. Banyak adegan long shot dengan pergerakan kamera yang asyik membawa penonton menjelajahi semua sisi pulau. Saat adegan perang pun, karena set yang luas, pertempuran lebih terasa maksimal dengan ekstra yang banyak. Sang sutradara Ryoo Seung-wan juga meminimalisasi penggunaan CGI demi membuat kesan pertempuran yang nyata. 

Semua aspek teknis sebagus apapun tidak akan menghidupkan film jika pemainnya tidak bagus. Di sinilah pemilihan pemain menjadi berpengaruh. Hwang Jung-min, So Ji Sub, Song Joong-ki, dan Lee Jung -hyunmemainkan peran mereka dengan sangat bagus. Walau karakter mereka sangat stereotip, tapi tetap saja kita bisa ikut berempati dan merasakan perjuangan serta penderitaan mereka. 

Dengan usaha yang begitu keras dan produksi yang begitu mahal tidak mengejutkan rasanya jika film ini laku keras di seluruh dunia. Dengan meraih 5 juta penonton hanya dalam enam hari awal penayangannya di Korea, bujet produksi yang mencapai $21 juta sudah tertutupi. Rekor demi rekor pun dipecahkan oleh film ini di Korea Selatan. Takut dengan horor dan lelah dengan film alay, Battleship Island cocok untuk menyegarkan kembali jiwa moviegoers kalian.


Artikel Terkait