Kesetiaan terhadap Manga-nya Membuat Gintama Sukses Menghibur

by Irna Gayatri 262 views

Kesetiaan terhadap Manga-nya Membuat Gintama Sukses Menghibur
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Kadang, yang diperlukan oleh sebuah live-action adalah kesetiaan mengikuti pakem.

Tahun ini, Jepang kembali berhasil menarik perhatian dunia dengan film-filmnya. Setelah Kimi no Na wa yang sukses tak hanya di Jepang, tetapi juga di negara lain, tahun ini Jepang juga punya film-film yang tak kalah bernilai. A Silent Voice dan In This Corner of the World juga telah sukses melanjutkan kesuksesan Kimi no Na wa. Kisah yang menyentuh nilai-nilai kehidupan menjadi senjata anime Jepang untuk menembus pasar dunia.

Bahkan, tak hanya itu, kini film live-action yang diangkat dari manga pun agaknya mulai menarik perhatian dunia. Kali ini, ada Gintama yang diadaptasi dari manga berjudul sama karya Hideaki Sorachi. Film yang digarap oleh Yuichi Fukuda ini sukses meraup keuntungan 982 juta Yen atau sekitar Rp119 miliar dalam empat hari penayangan di Jepang.

Kisah dalam film ini diambil dari Benizakura Arc dalam manga; sebuah konflik besar yang melibatkan kisah masa lalu Gintoki Sakata (Shun Oguri) bersama Katsura Kotarou (Masaki Okada) dan Takasugi Shinsuke (Tsuyoshi Domoto). Gintama sendiri merupakan manga dan anime yang panjang. Jadi, sesungguhnya agak berisiko menghadirkan Gintama dalam bentuk live-action. Jelas, ada banyak sekali bagian yang dilewatkan. Belum lagi kenyataan bahwa ada banyak karakter yang harus diperkenalkan, mengingat Benizakura Arc berlangsung saat telah banyak karakter muncul dalam manga-nya.

Akibatnya, setelah pertemuan singkat Gintoki dan Shinpachi ditunjukkan dalam beberapa menit awal, alurnya langsung dipotong menggunakan pendekatan yang mirip dengan anime-nya. Untuk penonton awam, hal ini mungkin mengganggu, norak, dan murahan. Tapi, itulah Gintama. Untuk penggemar Gintama, hal tersebut justru membuat film ini begitu setia terhadap lelucon khasnya. Membuat penonton melihat hal yang begitu norak dan menghinanya habis-habisan merupakan salah satu keistimewaan film ini.

Untuk yang mengikuti manga dan anime-nya, alur dalam film ini tak akan memusingkan. Namun, penonton awam akan menemukan bahwa ada cukup banyak  plot hole yang berarti, misalnya keberadaan Shinsengumi yang merupakan “polisi” pada zaman Edo sampai kelompok pemberontak berbahaya yang dipimpin oleh Takasugi. Meski begitu, sebenarnya perkenalan karakter dilakukan saat film benar-benar dimulai, yaitu ketika Kagura (Kanna Hashimoto), alien dari klan Yato, meminta Gintoki dan Shinpachi Shimura (Masaki Suda) untuk ikut bersamanya mencari kumbang langka. Kondo-san (Nakamura Kankuro) yang gila, Hijikata Toshiro (Yuuya Yagira) yang sangat suka meyones, Okita Sougo (Ryo Yoshizawa) yang sadis, sampai Elizabeth yang dilihat dari mana pun tetap terlihat seperti manusia dengan kostum, sebenarnya semua dijelaskan secara singkat. Ya, bisa jadi terlalu singkat untuk penonton awam.


Fukuda jelas sekali mencoba setia mengikuti manga dan anime-nya. Sebenarnya, live-action ini bisa dibilang salah satu yang paling detail berusaha mengadaptasi langsung dari manga dan anime-nya. Kostum serta model dan warna rambut adalah salah satu yang patut dijadikan sorotan penting. Selain itu, casting para pemerannya juga bisa dibilang cukup berhasil. Oguri berhasil mengangkat kekonyolan Gintoki tanpa harus terlihat berlebihan. Kanna Hashimoto dan Masaki Suda juga berhasil mengimbangi kekonyolan karakter Kagura dan Shinpachi. Biarpun tak banyak berperan, Nakamura Kankuro, Yuuya Yagira, dan Ryo Yoshizawa juga berhasil membawakan karakter Isao Kondo, wakil ketua setan Hijikata, dan Okita yang punya sisi sadis dengan sangat baik.

Sayangnya, patut diakui bahwa efek visualnya terlihat sangat menyedihkan. Terlalu menyedihkan sampai-sampai live-action ini terlihat seperti film murahan di beberapa bagian. Saat adegan pertarungan sengit berlangsung, selain gerakan beradu pedang yang cukup intens, tak ada yang istimewa dari efek visualnya. Bahkan, efek visualnya cenderung mengganggu dan merusak suasana yang sudah dibangun dengan baik oleh para aktornya. Jadi, wajar saja jika Fukuda tak mengambil risiko dengan menggambarkan Amanto menggunakan CG animated. Daripada menggunakan efek CGI, sutradara Hentai Kamen ini lebih memilih menggunakan kepala boneka untuk menggambarkan para alien yang disebut Amanto.


Untungnya, film ini juga bertabur lelucon konyol khas Sorachi yang tentu familier bagi para penggemar manga dan anime-nya. Beberapa kali live-action ini menyinggung karakter manga lain, bahkan karakter film milik salah satu studio animasi terbesar di Jepang. Memang ada banyak sekali hal yang berkaitan dengan dunia di luar dunia Gintama, namun justru karena itulah live-action ini menjadi film yang setia mengikuti pakemnya. Hasilnya, film ini berhasil menghibur dengan lelucon khas yang segar.

Gintama sudah tayang di Jepang sejak 14 Juli 2017 lalu. Meski begitu, film ini baru akan tayang di Indonesia pada 23 Agustus 2017. Jadi, siapkan jiwa dan raga untuk tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Shun Oguri dan kawan-kawan di jaringan CGV Blitz, Cinemaxx, dan Platinum Screen.