Alien: Covenant Memberikan Banyak Ketakutan, Tapi Bukan Kepuasan

by Prima Taufik 669 views

Alien: Covenant Memberikan Banyak Ketakutan, Tapi Bukan Kepuasan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Ridley Scott mengembalikan franchise alien ke akarnya terdahulu, tapi apakah ini langkah yang tepat?

Tim baru dengan pesawat baru dan misi baru, tapi semua berakhir dengan kegagalan dikarenakan rasa ingin tahu dan adanya hewan ganas yang membantai semua kru. Premis itu ada di semua film  dalam franchise Alien. Pendekatan yang sedikit berbeda disajikan dalam alur baru yang disebut-sebut awal dari cerita dalam franchise ini, Prometheus. Film keluaran 2012 ini memasukkan karakter Engineer yang secara tidak langsung digambarkan sebagai pencipta kehidupan di Bumi. Ridley Scott melakukan pengembangan cerita yang bijak dengan memperluas cakupan dunia Alien yang tidak hanya berisikan Xenomorph. Karakter Engineer ini pun memicu perdebatan di kalangan pencinta Alien yang meributkan apakah karakter ini perlu dikembangkan atau tetap fokus pada teror dari Xenomorph.

Hasil dari perdebatan ini tersaji dalam Alien: Covenant yang kembali diarahkan Scott. Scott memilih membawa franchise Alien ini kembali ke versi dasarnya yang merupakan film teror luar angkasa. Covenant tetap merupakan lanjutan dari Prometheus, tapi tidak lagi berfokus pada kisah Dr. Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan David (Michael Fassbender). Alih-alih, Scott membawa kita pada masa 10 tahun setelah kejadian di Prometheus berlangsung. 

Sebuah kru luar angkasa baru dengan misi kolonisasi melintasi angkasa dengan tujuan mencapai planet Origae-6. Kru yang berangotakan Daniels (Katherine Waterston), Oram (Billy Crudup), Tennesse (Danny McBride), Upworth (Callie Hernandez), dan Karine (Carmen Ejogo) beserta awak lain dan android Walter (Michael Fassbender). Namun dengan premis di atas kita semua tahu bahwa para awak dari pesawat Covenant ini tidak akan terbang dengan aman.


Tema mengenai penciptaan yang kental sekali dibahas di Prometheus tidak hilang sama sekali di Covenant. Justru, tema inilah yang membuat film tetap menarik dari semua pengulangan yang terasa klise. Aksi teror yang tersaji tetap mendebarkan. Kengerian Xenomorph dan segala varian alien yang ada tetap mampu membuat penonton bergidik. Dengan rating dewasa, adegan kekerasan yang disajikan mampu ditampilkan dengan lebih gamblang. Cipratan darah serta organ tubuh yang terburai dan berhamburan menghiasi layar setiap Xenomorph beraksi. Sebagai film horor yang mengeksploitasi teror dan kekerasan, Alien: Covenant berhasil dengan baik membawa kengerian ini kepada penonton. 

Dari sekian banyak jajaran pemain yang terlibat dalam franchise ini, tampaknya selain Sigourney Weaver, kita juga harus memasukkan nama Michael Fassbender sebagai pemeran karakter ikonik. Aktingnya sebagai android Walter/David sangat luar biasa. Ia bisa memberikan penampilan sebagai android yang kaku, tapi punya emosi yang terpendam. Perannya yang vital berhasil menyelamatkan film ini dari 'hanya-teror-di-luar-angkasa' menjadi 'teror- di-luar-angkasa-dengan-tujuan-yang-jelas'. David juga menjadi satu-satunya penghubung kita dengan apa yang terjadi setelah Prometheus. David-lah yang membuat kisah dalam film ini menjadi hidup dan menarik.


Bagi yang sangat menyukai Prometheus dan penasaran dengan pertanyaan seputar Engineer maka kalian akan kecewa saat menyaksikan Alien: Covenant. Memang nantinya akan dijelaskan keterkaitan film ini dengan Prometheus, namun tetap meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab. Alien: Covenant bukanlah film yang jelek, film ini seru, menghibur, dan menegangkan. Membuat kalian keluar dari bioskop dengan puas.

Namun, dari segi kesinambungan cerita, rasa yang mengganjal itu tidak akan pernah hilang. Sedikit twist di akhir serta peluang untuk adanya sekuel membuat harapan tetap ada. Namun, alangkah baiknya jika cerita berlanjut dengan karakter yang bisa dikembangkan ke depannya. Bukan lagi dengan tim baru, pesawat baru, misi baru, dan akhir menyedihkan yang sama setiap kali.

Artikel Terkait