Aib CyberBully Angkat Perundungan di Kalangan Remaja

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 143 views

Aib CyberBully Angkat Perundungan di Kalangan Remaja
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Temanya menarik, namun dieksekusi dengan cara yang sudah pernah dipakai film lain.

Dari dulu hingga sekarang, kasus perundungan atau bullying memang tidak ada habisnya. Mulai dari yang sederhana seperti mengejek kondisi tubuh teman hingga serangan fisik seperti pemukulan, penamparan, penjambakan, dan masih banyak lagi. Berbagai film Indonesia pun sudah sering mengangkat kisah mengenai bullying ini yang umumnya terjadi di ranah remaja (SMP-SMA). Kini, sebuah film terbaru produksi Surya Films dan Anami Films kembali mengangkat tema tersebut dengan judul Aib #CyberBully.

Dengan menggunakan video call sebagai media para karakter berinteraksi, film pun bergulir. Satu demi satu, tiap karakter mendapat “panggung” untuk dibuka aibnya oleh sosok misterius bernama Bianca. Tidak cukup membongkar aib ketujuh sahabat itu, satu per satu pun mati dengan cara yang mengenaskan. Siapakah Bianca ini? Benarkah dia salah satu teman mereka yang sudah meninggal bunuh diri karena tidak kuat menghadapi bullying dari teman-temannya.

Dari segi cerita, film ini mencoba memotret maraknya fenomena perundungan di kalangan remaja. Pengambilan gambar pun dibuat seunik mungkin karena menggunakan media video call yang mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan kids jaman now untuk tetap terhubung ke teman-temannya yang terpisah jarak. Dialog antarpemain pun dibuat “senatural” mungkin dengan menyelipkan kata-kata kasar yang mungkin bisa jadi terlontar saat kita ngobrol dengan teman yang sudah sedemikian akrab.


Namun, hal-hal yang disajikan dalam film ini bisa jadi membuat para penikmat film mengerutkan kening. Masalahnya, film ini nyaris mirip dengan sebuah film produksi Universal Studios pada tahun 2015 dengan judul Unfriended. Temanya serupa, yaitu cyberbullying. Yang di-bully, cewek yang kemudian arwahnya gentayangan untuk membalas dendam dengan menggunakan akun anonim. Karakter yang dihadirkan pun sama: sepasang kekasih, satu pria gendut yang pandai komputer, satu cowok jagoan, dan tiga karakter cewek lainnya dengan masalah masing-masing. Konfliknya pun bisa dikatakan nyaris serupa. Pengambilan gambarnya pun sama, yaitu dengan media ala video call.

Entah apakah penulis naskah dan sutradara tidak sadar bahwa film mereka mirip atau mereka sadar, tapi berharap para penonton tidak tahu? Terlepas dari apakah mereka meniru atau tidak, penulis naskah tampak kebingungan menghadirkan aib yang benar-benar membuat malu masing-masing karakter hingga membuat mereka berkelahi hebat. Aib yang dihadirkan bisa dibilang 80% berkutat di seputar hubungan seksual saja, mungkin bagi penulis naskah, aib ini tidak termaafkan, sementara aib lain masih bisa dimaafkan.

Tidak hanya itu, tiap karakter terasa tidak mendapatkan latar belakang yang cukup untuk membuat penonton bersimpati, marah, atau kecewa dengan mereka. Mungkin hanya Sarah dan Anthoni yang digambarkan sebagai sepasang kekasih saja yang membuat kita sedikit menaruh kasihan, itu pun hanya sedikit. Alasan mereka mem-bully sosok Caca hingga akhirnya tewas bunuh diri pun tidak jelas. Apakah Caca pernah menyakiti salah satu di antara ketujuh sahabat itu? Apakah omelan Bondan bahwa Caca menolak cintanya bisa dijadikan alasan yang kuat untuk mem-bully gadis ini?


Sayang memang, tema yang bisa “menyindir” kalangan remaja sekarang bisa jadi akan backfire dengan pemilihan bentuknya. Semoga respon masyarakat terhadap film ini jauh lebih bagus dan tidak hanya sekadar melihat kemasannya yang dianggap meniru film luar.

Artikel Terkait