Buffalo Boys: Kisah Fiksi Fantasi yang Mengasyikkan

by Prima Taufik 324 views

Buffalo Boys: Kisah Fiksi Fantasi yang Mengasyikkan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Film ini bisa menjadi pendongkrak genre fantasi di Indonesia

Entah bagaimana awal mula pencetusan ide hingga akhirnya film Buffalo Boys ini dimulai. Yang jelas, tentu bukan hal mudah untuk membuat sebuah film yang memiliki genre fantasi di Indonesia. Selain akan penuh efek CGI yang berbiaya mahal, ceritanya juga belum tentu sesuai dengan selera penonton tanah air. Di sinilah acungan jempol patut diberikan pada Screenplay Infinite dan sutradara Mike Wiluan yang berani tetap maju dan mewujudkan Buffalo Boys. Dilihat dari trailer-nya, wajar jika ekspektasi akan film ini menjadi tinggi. 

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan film di Indonesia adalah siapa aktor dan aktris yang bermain dalam film tersebut. Jika dalam Headshot ada Iko Uwais dan Chelsea Islan, kali ini Buffalo Boys menggaet Ario Bayu, Yoshi Sudarso, dan Pevita Pearce untuk menjadi ujung tombak. Publik sudah sangat mengenal kapasitas Ario dan Pevita di film Indonesia, tapi bagi Yoshi ini adalah pembuktian jika ia bisa menjadi aktor bagus setelah lebih terkenal sebagai Ranger Biru di salah satu seri Power Rangers. Namun, bukan hanya mereka, film ini juga dipenuhi bintang-bintang papan atas lain seperti Tio Pakusadewo, Hannah Al Rasyid, Happy Salma, Zack Lee, Alex Abad, Donny Damara, dan Mikha Tambayong. Nama besar mereka sudah menjadi jaminan akting yang mumpuni.

Yang membuat Buffalo Boys menarik adalah latar cerita yang terjadi pada masa penjajahan Indonesia. Selain itu, film ini menggabungkan gaya koboi yang populer di negara barat dengan gaya penduduk lokal Indonesia masa penjajahan. Bahkan, gaya bicara para tokohnya disesuaikan sehingga mereka berdialog dengan kalimat yang baku. Memang, agak membuat geli jika didengar pada masa sekarang, tapi memang seperti itulah adanya.


Sisi teknis adalah kelebihan utama dari film ini, terutama desain produksinya yang mewah dan menarik. Set film dibuat sedemikian rupa sehingga terasa seperti benar-benar memasuki era penjajahan. Kostum dan lingkungan juga dibuat semirip mungkin dengan tahun 1800-an. Selain itu, spesial efeknya juga cukup bagus untuk ukuran film lokal. CGI-nya cukup bersih walau masih bisa dikenali. Namun, efek praktisnya terutama untuk adegan aksi sangat bagus. Sound dan scoring pun ciamik, beat-beat cepat yang disuguhkan pada penonton menunjang setiap adegan menjadi lebih berisi.

Tapi, film ini tidak sepenuhnya sempurna. Cukup banyak hal yang membuat kenyamanan menonton sedikit terganggu. Pertama, banyak tokoh yang kehadirannya seperti numpang lewat saja. Walau memakai nama besar, tetapi selain karakter Ario sebagai Jamar dan Yoshi sebagai Suwo, karakter lainnya seperti kurang dieksplorasi. Bahkan, ada beberapa karakter yang hanya muncul untuk berkelahi dan mati, padahal diperankan aktor tenama.

Selain itu, dialognya banyak yang membuat kening berkerut. Terlalu cringe di beberapa bagian, kaku, dan beberapa kali ekspresi aktornya tidak bisa menyampaikan maksud dialognya dengan baik. Mungkin disebabkan cara bicara yang baku ini.

Terlepas dari itu semua, Buffalo Boys adalah film yang asyik untuk disaksikan. Ingat, walaupun berlokasi di Jawa dan ada koboinya, film ini tetaplah fiksi. Jadi, cobalah menikmati dengan santai, tidak perlu pusing dengan tidak ada hubungannya dengan situasi yang ada. Duduk dan nikmati.


Artikel Terkait