Permainan Biasa Berakhir Mematikan dalam Truth or Dare

by Irna Gayatri 376 views

Permainan Biasa Berakhir Mematikan dalam Truth or Dare
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Permainan biasa ini berakhir mematikan dalam film garapan Jeff Wadlow ini. Namun, apakah kengeriannya tersampaikan?

Sebagai rumah produksi yang mengkhususkan diri dalam produksi film-film horor, Blumhouse Productions bukanlah pemain baru. Beberapa kali menghasilkan karya yang mencetak box office, seperti Insidious dan The Purge: Anarchy, Blumhouse agaknya cukup percaya diri dalam mencetak hits lainnya. Setelah mengangkat permainan memanggil roh dalam Ouija (2014), kini rumah produksi ini kembali mencoba menghadirkan kengerian yang sama melalui Truth or Dare. Permainan biasa ini berakhir mematikan dalam film garapan Jeff Wadlow ini. Namun, apakah kengeriannya yang dibutuhkan tersampaikan?

Kutukan mengerikan yang tak ada habisnya bukanlah formula baru dalam film karena The Ring sudah melakukannya hampir 20 tahun lalu. Formula ini berhasil saat itu, namun untuk kembali menggunakannya dalam kemasan berbeda, hal ini tak berhasil dilakukan oleh Blumhouse. Dibintangi oleh Lucy Hale, Tyler Posey, Violett Beane, Hayden Szeto, dan Landon Liboiron, Truth or Dare menjadi film horor supernatural dengan jalan cerita yang mudah ditebak.

Sekelompok mahasiswa mengadakan liburan musim panas terakhir mereka di Meksiko. Di sana, Olivia (Lucy Hale) bertemu dengan pria misterius yang mengajak mereka menghabiskan malam di sebuah gereja terbengkalai dan memainkan permainan “Truth or Dare”. Olivia dan teman-temannya memainkan permainan itu, lalu kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasa sepulang liburan. Namun, mereka tak menyadari bahwa mereka telah memainkan permainan yang dikutuk karena seluruh pemainnya harus berkata jujur dan melakukan tantangan yang diminta atau mereka mati.


Sebuah premis yang cukup menjanjikan ditawarkan. Dalam setiap giliran, ada konsekuensi yang harus diterima. Hubungan persahabatan Olivia dan Markie (Violett Beane) berantakan. Selain itu, bahaya mengancam Olivia dan kawan-kawan dalam setiap gilirannya. Namun, drama percintaan yang menguasai hampir setengah plot film ini merusak suasana. Film ini pun malah terkesan seperti opera sabun dengan cinta segitiga yang dibumbui unsur permainan supernatural.

Truth or Dare bahkan sama sekali tidak menakutkan atau pun mengejutkan dengan scoring dan efek suaranya. Ini hanyalah drama remaja dewasa yang konfliknya mterlalu klise dan penyelesaiannya pun mudah ditebak. Tak ada perkembangan karakter yang berarti. Truth or Dare jadi film horor tanggung yang hanya membuat penonton gemas karena menebak-nebak, “Siapa yang akan mati selanjutnya?” dan “Bagaimana caranya?” sebagaimana yang pernah dimunculkan dalam Final Destination bertahun-tahun lalu. Namun, jika Final Destination masih bisa memberikan kengerian akan kematian yang mendebarkan, di film ini kematian demi kematian terjadi tanpa makna, bahkan sadis pun tidak.


Untuk sebuah film horor keluaran Blumhouse, Truth or Dare adalah film yang terlalu ringan. Durasi 100 menit jadi terasa cepat karena konflik yang klise dan formula yang diulang. Film ini punya Olivia, karakter perempuan pemberani dan cerdas yang bisa menyadari keanehan permainan “Truth or Dare” mereka dan memberikan sedikit banyak bantuan untuk teman-temannya. Seperti biasa juga, film ini punya karakter yang tak percaya takhayul yang pada akhirnya mati mengenaskan.

Meski begitu, untuk kalian yang lebih suka menikmati film horor tanpa scare jump, Truth or Dare bisa jadi film yang menyenangkan. Ditambah lagi, di dalamnya ada si charming Tyler Posey yang cukup memberi warna film ini. Selain itu, perubahan wajah para karakter yang menyeringai seperti memakai fitur Snapchat juga cukup mengganggu dan bisa bikin mimpi buruk!