Peter Rabbit Tampil Anarkis dan Belajar Pada Akhirnya

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 874 views

Peter Rabbit Tampil Anarkis dan Belajar Pada Akhirnya
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Sedikit twist untuk karakter favorit anak-anak ini.

Pesona buku bacaan klasik agaknya memang tak pernah luntur. Bahkan, kini, tak cukup hanya menikmati tokoh-tokoh favorit penuh kenangan dari buku bacaan, para pelaku industri film semakin gencar mengangkat kisah-kisah klasik tersebut ke layar lebar. Tahun ini, Sony memulainya dengan Peter Rabbit yang berhasil menjadi film yang cukup kontroversial. Bahkan, bisa dibilang, film ini tak cukup memuaskan untuk penikmat kisah manis Peter Si Kelinci yang di dalamnya penuh pesan-pesan hangat dan kekeluargaan.

Mengangkat kisah kelinci bernama Peter, karakter ciptaan Beatrix Potter ini ditampilkan dengan kepribadian yang cukup jauh dari karakter originalnya. Peter menjadi kelinci yang narsis, banyak bicara; beruntung dia tidak menghabiskan waktunya ber-carpool karaoke seperti James Corden (si pengisi suara). Peter yang ditampilkan dalam film ini memang bukan Peter yang jahil namun adorable, melainkan punya sisi “gelap” di dalamnya.

Will Gluck dan Rob Lieber memang membuat naskahnya menjadi lebih modern dan mencoba merangkul tak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Dengan kata lain, Peter yang ditampilkan di sini tak hanya jahil, tetapi nakal. Benar-benar nakal. Meski memang ada alasan yang logis di balik kenakalannya, tetap saja Peter tak bisa jadi contoh yang baik untuk anak-anak. Dan memang  agaknya film ini tak mencoba menjadi contoh, melainkan menghibur dengan banyolan yang kasar untuk anak-anak, namun menyenangkan untuk orang dewasa.


Film dibuka dengan cukup klasik, membuat kita berpikir film ini benar-benar bernuansa Inggris. Meski begitu, Gluck langsung meruntuhkan ekspektasi tersebut dengan adegan slapstick ala Tom & Jerry yang awalnya terlihat mengerikan, namun entah bagaimana jadi bisa dinikmati pada akhirnya meski kasar, 

Berbeda dengan buku bacaannya yang memang berfokus kepada kisah keluarga yang penuh nasihat baik, Peter Rabbit sama sekali tak ingin menjadi film yang menggurui. Film ini tak menyajikan karakter hitam-putih dengan Peter sebagai pahlawannya dan Mr. McGregor sebagai penjahatnya. Sebaliknya, film ini lebih menyoroti bagaimana Peter justru bisa menjadi sangat jahil sampai menyusahkan. Selain aksi Peter, yang juga mengocok perut adalah kelakuan menggemaskan tiga adik Peter, yaitu Flopsy, Mopsy, dan Cottontail yang diisisuarakan secara berturut-turut oleh Margot Robbie, Elizabeth Debicki, dan Daisy Ridley. Kegilaan mereka juga menjadi salah satu daya tarik film ini.

Untuk sebuah film anak-anak, film ini cukup banyak menampilkan adegan merusak, khususnya antara Peter dan Mr. Thomas McGregor yang diperankan oleh Domnhall Gleeson. Untungnya, setelah semua yang terjadi, film ini tetap menyelipkan pelajaran bahwa tak ada yang sempurna. Peter belajar bahwa tindakan “anarkis”-nya membawa masalah tak hanya bagi musuhnya, tetapi juga orang terkasihnya, Bea (diperankan oleh Rose Byrne).  Film ini menunjukkan bahwa pada dasarnya McGregor yang seharusnya menjadi villain nyatanya tak sejahat itu. Dan Peter yang seharusnya menjadi hero pun tak se-“putih” itu. Selain itu, setelah Peter mulai menyadari kesalahannya, ia pun mulai berpikir apakah yang ia lakukan selama ini hanyalah tindakan egois? Semua terjawab menjelang akhir cerita. Film ini pada akhirnya tetap memberikan pelajaran yang dibutuhkan. Dengan begitu, didampingi orang tua, film ini masih bisa diterima sebagai film anak-anak.


Artikel Terkait