Darkest Hour: Masa-Masa Kelam Inggris di Perang Dunia II

by Prima Taufik 299 views

Darkest Hour: Masa-Masa Kelam Inggris di Perang Dunia II
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Pemimpin terbaik dilihat dari kemampuannya di masa konflik.

Menjadi pemimpin suatu bangsa bukan tugas yang mudah bagi siapa pun, apalagi menjadi pemimpin negara yang sedang kacau karena Perang Dunia. Darkest Hour arahan sutradara Joe Wright menyoroti masa pemerintahan Winston Churchill di Inggris saat harus menjadi Perdana Menteri karena krisis kepemimpinan yang sedang melanda. Ia mengambil alih kursi Perdana Menteri dari Neville Chamberlein yang dianggap gagal memimpin Inggris saat konflik Perang Dunia. Berbekal amunisi aktor dan aktris kelas dunia, Joe berharap film ini bisa bersaing di musim penghargaan.

Adalah Gary Oldman (trilogi The Dark Knight) yang diberi beban untuk memerankan sosok Winston Churchill. Peran yang digarap sangat serius oleh Gary hingga kita tidak melihat sosok Gary Oldman lagi, yang kita lihat hanya penggambarannya atas sosok Churchill yang keras, tapi punya pemikiran mendalam. Sosok yang tegas, namun juga punya kelembutan dan mau mendengarkan. Bagi orang-orang yang belum pernah melihat sosok asli Churchill, perwujudan Oldman akan tokoh ini sangat bagus. Terlihat sekali tanggung jawab yang diembannya berpengaruh dalam aspek kehidupan sehari-hari. 

Untuk film-film biopik seperti ini takarannya adalah bagaimana pemeran utama bisa semaksimal mungkin menjadi tokoh yang ia perankan. Pemeran lain kadang hanya terlihat sebagai tempelan. Untungnya, Darkest Hour tidak seperti itu. Deretan pemain pendukung saling memberikan akting terbaik mereka sehingga suasana kekacauan dalam pemerintahan saat PD II sangat terasa. Lily James, Stephen Dillane, Ben Mendelsohn, dan artis pendukung lainnya semua tampil maksimal di sini.


Film biopik tidak selalu harus kental dengan nuansa serius dan dialog-dialog panjang yang membosankan. Darkest Hour juga punya sisi komedi yang menarik di sela-sela suasana serius yang dibangun. Bagusnya penempatan comedic relief ini tidak merusak mood yang sedang dibangun oleh film. Selain itu, dengan durasi mencapai dua jam lebih sedikit tidak ada rasa bosan yang datang. Dengan dialog yang normal dan mudah dimengerti, penonton jadi bisa memahami dengan baik situasi yang terjadi dalam film.

Memang film-film biopik bukanlah film untuk pangsa pasar semua orang. Namun, saat musim penghargaan mulai memanas, tidak ada salahnya mengalihkan tontonan dari film popcorn ke film penghargaan. Bagaimana pun, hidup harus seimbang, bukan?


Artikel Terkait