Salam Perpisahan Barden Bella untuk Para Aca-people

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 951 views

Salam Perpisahan Barden Bella untuk Para Aca-people
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Masih dihiasi lagu-lagu yang mengundang kita untuk sing-along

Siapa sangka kisah grup akapela kampus Barden Bellas ternyata mendapat sambutan meriah saat diputar pertama kali hingga akhirnya diteruskan menjadi trilogi? Dengan menghadirkan lagu-lagu yang kekinian, Pitch Perfect menjadi salah satu film musikal yang disukai para penikmat film. Di akhir tahun 2017 ini, kisah Barden Bellas akan disudahi lewat babak ketiga filmnya. Akankah masih seseru dua tahun sebelumnya?

Tiap anggota Barden Bellas mulai meniti karier di bidang kesukaan mereka setelah lulus kuliah. Ternyata, awal karier mereka tidak berjalan lancar. Saat mendapat undangan reuni, mereka pun dengan semangat datang untuk kembali dikecewakan. Di saat itulah, Aubrey memberi usul untuk mengikuti tur dalam rangka menghibur tentara Amerika di Eropa. Namun, bukan Barden Bellas namanya kalau tidak punya saingan. Kali ini, bukan sesama grup akapela, namun band yang memperebutkan tempat menjadi pembuka show DJ Khaled. Akankah Barden Bellas berhasil mewujudkan mimpi mereka?

Sama seperti kisahnya yang lebih dewasa, gadis-gadis akapela ini juga harus menghadapi tantangan yang lebih besar lagi, yaitu menghadapi band. Hal ini cukup menjadi penyegaran bagi penikmat film yang sebelumnya hanya disuguhi dengan kelompok-kelompok akapela.


Tidak hanya sekadar upaya mereka berkompetisi, penonton juga dibawa untuk mengenal Ayah Fat Amy, kisah cinta Chloe dan Lilly, hingga keinginan Becca untuk menjadi produser musik ternama. Namun, bukan berarti dengan kisah yang lebih dewasa, kelakukan konyol dan aneh para Bellas menghilang. Fat Amy masih dengan omongannya yang terkadang tidak disaring, Chloe dengan sikap dramanya, dan Lilly dengan keunikanny. Yang lebih kalem sepertinya hanya Cynthia Rose Adams (Esther Dean), si kulit hitam yang kerap melontarkan komentar berbau seksual atau Flo Fuentes yang minim kalimat sarkas.

Sangat disayangkan bahwa band Evermoist yang menjadi saingan mereka terasa hanya ditaruh sebagai sosok antagonis dan tidak digali lebih dalam lagi. Grup akapela cowok yang dimunculkan dalam film pertama dan keduanya, Treblemaker, juga dikisahkan memilih jalan masing-masing sehingga ditiadakan dari alur Pitch Perfect 3.

Meski disajikan dengan kisah yang lebih ‘wah’ dari film sebelumnya, namun Pitch Perfect 3 terasa diakhiri dengan ending yang biasa saja. Dibandingkan film pertama dan kedua, penghujung film, meski membuat haru, tapi tidak terasa megah. Mungkin karena tidak ditutup dengan adu akapela seperti di dua film sebelumnya. Namun, dari segi musik, Pitch Perfect 3 tetap sanggup membuat kita ingin ikut bergoyang dan bernyanyi karena lagu-lagu yang di-remake adalah lagu yang sudah kita kenal.

Sebagai film penutup tahun, Pitch Perfect 3 adalah sebuah hiburan komplit yang tidak hanya membuat kita tertawa, dan menangis, bahkan juga ikut sing-along sepanjang filmnya. Tonton dan kita pasti akan sedih karena harus kehilangan para Bellas yang memutuskan untuk menjadi dewasa.


 

 

Artikel Terkait