Daddy’s Home 2 Cukup Kacau untuk Sebuah Film Keluarga

by Irna Gayatri 223 views

Daddy’s Home 2 Cukup Kacau untuk Sebuah Film Keluarga
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Untuk sebuah film keluarga berlatar natal, menghibur dengan lelucon konyol saja tidak cukup.

Dua tahun berselang, Will Ferrell dan Mark Wahlberg kembali berkolaborasi sebagai duo jenaka yang berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak-anak mereka dalam Daddy’s Home 2. Jenaka, memang, sebagaimana lelucon dalam sitkom yang cenderung receh. Namun, menjadi sebuah film yang menghibur saja rasanya tidak cukup sehingga Sean Anders agaknya mencoba untuk tak bermain di zona aman dan memasukkan lebih banyak “ayah” untuk menambah konflik pelik dalam filmnya.

Brad Whitaker (Will Ferrell) dan Dusty Mayron (Mark Wahlberg) berusaha menyiapkan natal terbaik untuk anak-anak mereka. Namun, keduanya harus mengubah rencana setelah kedatangan ayah mereka, Don Whitaker (John Lithgow) dan Kurt Mayron (Mel Gibson) seminggu sebelum natal. Akhirnya, mereka pun pergi berlibur yang rencananya akan menjadi liburan keluarga terbaik mereka.

Sesuai tagline-nya: “Semakin banyak ayah, semakin banyak masalah”, film ini memang hadir dengan masalah yang terlalu rumit kalau tidak bisa dibilang kacau. Will Ferrell dan Mark Wahlberg baik-baik saja dengan peran mereka. Bahkan, bisa dibilang chemistry keduanya jauh lebih kuat dari film sebelumnya dan membuat kelucuan keduanya mengalir. Ferrell berhasil menjadi ayah tiri yang lembut untuk anak-anak Dusty, sementara Dusty kesulitan mengisi posisi ayah untuk anak perempuan tirinya. Namun, keduanya berhasil menjadi menjaga hubungan baik yang mereka sebut “co-dad”.


Film ini sebenarnya baik-baik saja dan bisa jadi film komedi natal yang hangat kalau saja tak menyertakan komedi kasar (bukan slapstick) dan hampir vulgar di dalamnya. Dan komedi semacam itu justru muncul dari karakter Kurt yang diperankan Gibson. Kekacauan yang sebenarnya datang dari karakter Mel Gibson yang sama sekali jauh dari sosok kakek yang menginspirasi. Dan di tengah kegilaan film ini, entah bagaimana Kurt pada akhirnya bisa jadi kakek yang cukup ‘menginspirasi’ kedua cucunya.

Like father, like son. Meski keempat ayah ini memiliki masalah masing-masing dan tentunya karakter yang berbeda-beda, keempatnya tetap dapat sepakat dalam satu hal, pengatur suhu ruangan. Dan bagian ini menjadi salah satu bagian terlucu dalam film ini karena, sebesar apa pun perbedaan yang memisahkan mereka, secuil kesamaan ini telah menghubungkan persepsi mereka mengenai bagaimana seorang ayah seharusnya mendidik anak. Anders juga menyelipkan unsur feminisme yang sebetulnya tak begitu penting untuk ditampilkan jika hanya untuk menunjukkan bahwa perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang brutal, seperti berburu kalkun.


Untuk sebuah film dengan rating 13+, agaknya Daddy’s Home 2 tak bisa menjadi film keluarga murni. Masalah keluarga di dalamnya terlalu pelik dan kacau. Karakter anak-anak, para orang tua, sampai kakek mereka, semuanya terlalu gila dan tak bisa dipercaya mereka benar-benar ada. Meski mencoba menampilkan satire melalui kegilaan itu, Daddy’s Home 2 justru malah terjebak dalam komedi receh yang hanya mengocok perut saat penonton masih berada di depan layar, namun mudah dilupakan setelah layar ditutup.

Untuk pemanasan sebelum film-film natal lainnya menanti pada bulan depan, Daddy’s Home 2 bisa jadi suguhan ringan yang mampu membuat perut kalian sakit akibat tertawa. Namun, sekali lagi, ternyata menghibur saja masih tak cukup untuk sebuah film keluarga. Jika kalian mencari film keluarga yang menyajikan makna dan faedah di akhirnya, Daddy’s Home 2 tentu bukan film yang kalian cari. Namun, jika kalian hanya perlu film yang mampu membuat kalian tertawa, maka film ini adalah pilihan tepat.