Blade of the Immortal: Adaptasi Singkat yang Mengikat

by Irna Gayatri 437 views

Blade of the Immortal: Adaptasi Singkat yang Mengikat
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Takashi Miike mampu mengikat penonton untuk mengikuti jalannya film ini tanpa melewatkan detailnya sedikit pun.

Jepang dan film samurainya memang seakan tak pernah mati. Dan Takashi Miike adalah sutradara paling menjanjikan saat ini yang bisa membuat sebuah film samurai yang diadaptasi dari manga bisa menjadi begitu hidup. Bukan karena film ini merupakan live-action yang diadaptasi dari manga yang sedang populer saat ini, melainkan karena Miike berhasil membawakan kisah tentang samurai terkutuk dengan sangat menarik.

Beberapa tahun belakangan ini, industri film Jepang agaknya memang sedang keranjingan mengadaptasi manga atau anime populer ke dalam bentuk live-action. Namun, tak jarang beberapa di antaranya malah berakhir jadi film yang tak rasional atau cenderung tak sinematik. Tapi, Miike adalah sutradara cukup yang cerdas dan berpengalaman, khususnya dalam hal membawakan cerita tentang gangster dan samurai. Dia tak membiarkan film garapannya menjadi terlalu bersifat animasi, melainkan membuatnya serealistis mungkin. Tentu saja, semua itu dilakukan tanpa membuat film ini kehilangan jiwa aslinya.

Setelah 13 Assasins (2011) dan Hara-Kiri (2012), Miike masih belum kehilangan sentuhannya. Dibuka dengan film hitam-putih, Blade of the Immortal tampil realistis sejak awal. Manji (Takuya Kimura), seorang rounin yang membunuh tuannya sendiri harus berhadapan dengan sekelompok bandit suruhan yang mengincar nyawanya. Bersama adiknya yang gila, Manji terus lari dari kejaran para pembunuh bayaran. Namun, setelah diserang oleh 100 orang yang menyebabkan kematian adiknya, Manji harus menemui keabadian berkat ‘kutukan’ yang diberikan oleh seorang nenek misterius.


Lima puluh tahun berselang, Miike menyajikan akhirnya memberikan warna untuk filmnya. Kali ini, ada sekelompok samurai memburu samurai lainnya, bernama Itto-Ryu. Dipimpin oleh Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi), Itto-Ryu tak membiarkan kelompok aliran pedang yang tak bersedia bergabung denganya hidup lebih lama. Itto-Ryu pun menjadi ancaman untuk kekaisaran masa itu. Saat itulah seorang gadis bernama Rin (Hana Sugisaki) berjanji akan membunuh Anotsu Kagehisa yang telah membunuh ayahnya.

Seakan dibawa oleh takdir, Rin mencari Manji dan memintanya menjadi pengawalnya. Perjalanan mereka pun dimulai dan baik Manji maupun Rin berusaha mencari kebenaran melawan orang-orang yang telah menyalahi mereka. Manji pun pada akhirnya keluar dari rutinitasnya dan menemukan alasan tepat untuk kembali mengasah kemampuan pedangnya.


Dalam film ini, Miike berhasil merangkum dua archs utama dari manga karya Hiroaki Samura dengan sangat baik, tanpa melewatkan detail penting dan terlalu mengeksploitasi beberapa bagiannya. Miike mengisahkannya dengan tempo yang pas, tidak terburu-buru dan juga tak terbuai dalam drama yang berkepanjangan. Tak lupa selera humor Miike yang cukup unik juga tertuang di dalamnya, membuat pertarungan penuh darah jadi adegan yang sangat menghibur dan asyik dinikmati.

Miike juga tak membiarkan penonton bernapas lega terlalu lama. Pergerakan kamera yang dinamis membuat ketegangan demi ketegangan dalam film berdurasi 2 jam 30 menit ini tak cepat habis. Dan berkat kesukaannya mengeksplorasi film-film bertema gangster, Blade of the Immortal pun sedikit banyak menunjukkan ciri khas itu. Saat Manji bertemu dengan seratus rounin yang mengincar kepalanya demi uang, kemunculan 100 orang tersebut dibuat dengan sangat dramatis dan di satu sisi keren. Hasilnya, mood yang dibutuhkan pun terbangun dengan sangat baik.


Yang cukup mengejutkan adalah Takuya Kimura, yang meski merupakan mantan anggota boyband, nyatanya bisa bermain seliar-liarnya sebagai “Manji Si Pembunuh 100 Orang”. Liar, gila, dan cenderung bodoh. Hana Sugusaki pun mampu mengimbangi kegilaan tersebut dan membuat perjalanan duo ini layak diikuti. Sayangnya, Sota Fukushi terlalu datar (kalau tak bisa dibilang biasa saja) untuk memerankan karakter Kagehisa yang dingin dan berpandangan tajam.

Sinematografinya juga layak diberi sorotan, khususnya saat adegan pertarungan pedang yang koreografinya begitu rapi dan alami, tak memberikan sela untuk penonton mencermati pergerakan pedangnya yang sangat cepat. Tapi, sekali lagi, semuanya terlihat sangat sinematik dan indah, tak membuat film ini terlihat berlebihan sebagaimana yang mungkin terlihat dalam live-action yang masih membawa unsur manga atau anime di dalamnya. Miike berhasil menunjukkan bahwa sebuah live-action yang baik adalah live-action yang bisa menggambarkan manga atau anime yang diadaptasinya dengan sudut pandang yang tepat, tanpa melupakan bahwa live-action tetaplah sebuah film yang sudah seharusnya punya nuansa yang berbeda dengan manga atau anime.


Miike berhasil membuat film keseratusnya menjadi film yang penuh darah, namun sangat menghibur. Dan kalian boleh bersyukur karena dapat menikmati salah satu karya masterpiece Miike ini tanpa dipotong sensor yang mengganggu.