Thor: Ragnarok Lebih Mementingkan Lelucon Dibanding Cerita yang Solid.

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 767 views

Thor: Ragnarok Lebih Mementingkan Lelucon Dibanding Cerita yang Solid.
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Sepertinya film ini hanya dibuat untuk bersenang-senang

Setelah belasan film yang diproduksi oleh Marvel Studios, tampaknya kini inovasi semakin sedikit dilakukan. Dengan pola yang hampir sama di setiap film, dan naik pamornya Guardians of the Galaxy, kini semua film mereka tampaknya mencoba formula yang sama. Apapun karakter, latar belakang, dan musuh yang dihadapi tidak penting. Yang penting, lawakan dan lelucon harus banyak dan berlebihan. Kalo perlu karakter yang “mighty” seperti Thor harus dibikin lucu dan bodoh agar penonton senang. Tidak peduli konteks apa yang sedang dihadapi. Jika lelucon yang ditampilkan lucu, tidak masalah. Tapi, jika leluconnya tidak membuat kita tertawa, tapi ditampilkan setiap lima menit? Yang tersisa hanya perasaan ingin buru-buru sampai di akhir film demi mengetahui kelanjutan garis besar cerita yang diawali oleh Iron Man pada tahun 2008.

Filmnya punya banyak potensi untuk digali, kehadiran tokoh baru, baik dari tim hero maupun villain, bisa menjadi landasan cerita yang solid. Tapi, tidak. Mereka hanya muncul untuk membuat kekonyolan dan hilang (terutama Karl Urban). Taika Watiti memang dikenal sebagai sutradara yang suka membuat film komedi absurd versinya sendiri. Sekarang, semua karakternya sudah ada dan dia hanya tinggal meramunya. Entah karena faktor GOTG yang sukses besar dan kesamaan aksi yang berada di luar angkasa, maka muncul kesan Thor: Ragnarok ini dipaksa untuk mengikuti jalur sukses GOTG yang penuh humor slapstik.

Jika dilihat dari peristiwa yang dilalui Thor sepanjang film, banyak kejadian yang bisa memicu cerita ke arah yang bisa dieksplorasi lebih dalam. Namun, lagi-lagi peristiwa itu hanya dianggap angin lalu dan joke lebih diutamakan. Faktor munculnya Hulk di Thor: Ragnarok ini sepertinya turut andil membuat perkembangan cerita menjadi tidak fokus. Memang, setelah sama-sama tidak muncul di Civil War, ada kecenderungan untuk tidak menganaktirikan Hulk dengan membawanya tampil bersama Thor. Namun, melihat jalan cerita yang ditampilkan, peran Hulk di film ini ternyata juga tidak begitu signifikan.


Sebagai pendatang baru di dunia Thor, Tessa Thompson dan Cate Blanchett berhasil menjadi bintang di film ini. Tessa yang mendapatkan peran sebagai Valkyrie mampu menampilkan sosok ksatria wanita yang tidak kalah garangnya dari Lady Sif yang diperankan Jaime Alexander. Sedangkan, Cate Blanchett yang memainkan Hela adalah karakter dengan kesan paling kuat di film ini. Semua adegan Cate di film ini meninggalkan kesan yang kuat dibanding pemeran lain, terutama Loki (Tom Hiddleston) yang difilm-film sebelumnya sangat menonjol. Sayang, lagi-lagi karaktervillain perkasa ini ditamatkan begitu saja di akhir cerita.

Marvel memang sudah teruji dengan formula film-film mereka. Namun itu juga yang membuat film-film mereka tampak sama dan mudah diprediksi. Hanya karakter-karakter mereka yang sudah melekat di benak penontonlah yang membuat orang masih mau datang ke bioskop. Untunglah, tidak ada film yang benar-benar jelek dari Marvel.