Fireworks Tampilkan Batas Tipis Antara Harapan dan Kenyataan

by Irna Gayatri 257 views

Fireworks Tampilkan Batas Tipis Antara Harapan dan Kenyataan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Persahabatan dan cinta yang murni jadi satu dalam film drama animasi yang emosional ini.

Sejak Your Name, semakin banyak film animasi Jepang yang dibuat dengan niat yang lebih condong ke arah menyediakan film dengan animasi indah, cerita yang menyentuh secara emosional, dan tentunya musik yang membuat semua emosi itu berpadu jadi satu. Beberapa film setelahnya, seperti A Silent Voice dan In This Corner of the World menurut saya malah bisa melampaui Your Name dalam ketiga aspek tersebut. Jadi, jangan heran jika saya juga cukup berharap dalam Fireworks.

Diadaptasi dari dorama berjudul sama garapan Shunji Iwai yang rilis pada 1993, Fireworks disutradarai oleh Nobuyuki Takeuchi berdasarkan naskah yang ditulis oleh Hitoshi Ohne. Tak seperti film anime lainnya, Fireworks memilih aktor sungguhan untuk memerankan karakternya, di antaranya adalah Suzu Hirose (Your Lie in April), Masaki Suda (Gintama), dan Mamoru Miyano (Wonderful World). Animasinya dikerjakan oleh studio Shaft dan musiknya yang indah dikerjakan oleh Satoru Kosaki (Kizumonogatari). Lagu temanya yang berjudul “Uchiage Hanabi” digubah oleh Kenshi Yonezu dan dinyanyikan bersama DAOKO.

Berdurasi 90 menit, Fireworks awalnya terlihat menyia-nyiakan durasi singkatnya itu untuk membuat penonton kebingungan di 30 menit pertama. Kebingungan karena penonton masih tak diberi kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya ingin diangkat dalam film ini. Bisa dibilang, pembukaan film ini dibuat untuk memanjakan mata karena beberapa adegan di awal memang terlihat jernih, terlepas dari efek CGI yang membuat beberapa pergerakan di film ini terlihat seperti adegan dalam video game.

Lalu, terlihat bahwa Norimichi (Masaki Suda) dan Yusuke (Mamoru Miyano), ternyata menaruh perhatian pada Nazuna (Suzu Hirose). Namun, Nazuna yang pendiam ternyata menyimpan perasaan sedih dan kecewanya karena ibunya akan menikah lagi dan mereka akan pindah kota. Sementara itu, festival kembang api akan berlangsung sebentar lagi. Norimichi, Yusuke, dan teman-temannya berdebat soal apakah kembang api itu datar atau bulat? Pertanyaan itu menuntun mereka untuk membuktikan kebenaran tentang perdebatan mereka itu.


Sampai di sini, kelihatannya film ini akan menjadi film dengan kisah cinta dan persahabatan yang hangat. Namun, setelah Norimichi melihat Nazuna berencana melarikan diri dan gagal karena ketahuan ibunya, Norimichi mulai menyesali situasi yang terjadi dan berharap jika saja situasinya tak begini. Tanpa disadarinya, keajaiban terjadi. Norimichi terus mengulang hari yang sama sampai dia menemukan tempat yang memenuhi harapannya. Film ini pun jadi bias karena membiarkan temanya mengambang di antara cinta dan persahabatan.

Pengulangan yang terjadi dan dunia paralel yang dibentuk dari harapan Norimichi membuat film ini tampil surealis. Sesaat, ada perasaan ngeri karena dunia paralel yang didatangi Norimichi aneh, namun indah. Tapi, bagaimana pun, Norimichi membuat dunia itu untuk dirinya dan Nazuna. Nazuna yang berharap satu hari saja bisa menghabiskan waktu bersama Norimichi menikmati perjalanan mereka. Meski tak masuk akal, semua jadi terlihat indah. Tak jelas apakah perasaan Nazuna dan Norimichi adalah cinta yang murni atau justru persahabatan yang dalam.

Musiknya adalah hal penting yang patut dijadikan sorotan mengigat film ini jadi film yang indah karena musiknya yang lembut, terikat secara emosional dengan tampilan visualnya, dan menggambarkan perasaan yang ingin disampaikan, entah itu kesedihan, kekecewaan, dan kebahagiaan. Ditutup dengan lagu DAOKO, musiknya benar-benar mengantarkan film ini sampai mencapai klimaksnya dengan baik, meski klimaksnya sendiri masih meninggalkan tanda tanya besar.

Keindahan animasinya sebenarnya sebagian besar tergambarkan melalui karakter Nazuna dan tentu saja penggambaran surealis terhadap dunia yang diharapkan Norimichi. Memiliki aktor sebagai pengisi suaranya membuat emosi karakternya tersampaikan dengan baik, meski sebenarnya tak ada perkembangan karakter yang bisa dilihat dalam film ini. Nada yang pas dan emosi yang sesuai membuat alur yang kosong dalam film ini jadi terselamatkan.


Sayangnya, alur dan cerita adalah dua hal yang paling tidak menonjol dalam Fireworks. Alurnya sangat sederhana karena hanya mengulang hari yang sama. Perpindahannya pun tak begitu bisa dinikmati karena hanya berisi pengulangan. Akhirnya, film ini jadi terlihat seperti sekadar menggabungkan gambar yang sudah ada sebelumnya. Film ini juga tak memberikan jawaban atas segala yang terjadi. Jadi, jika kalian adalah tipe penonton yang tak suka dengan film open ending, maka film ini akan terasa kaku.

Fireworks bisa dibilang bukanlah film yang bisa dinikmati oleh orang-orang yang menginginkan cerita yang jelas karena pada dasarnya ini adalah film yang kental dengan suasana surealis. Aneh, memang, tapi juga menyampaikan perasaan karakternya dengan indah. Harapan Norimichi, Nazuna yang haus kebebasan, dan satu hari yang berharga untuk keduanya adalah perpaduan yang membuat film animasi ini tak buruk.