Kematian yang Menghibur dalam Happy Death Day

by Irna Gayatri 328 views

Kematian yang Menghibur dalam Happy Death Day
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Mengulang hari yang sama hanya untuk dibunuh? Happy Death Day hadir dengan premis yang cerdas!

Blumhouse Prooduction tak salah mengangkat genre horor komedi segar dalam Happy Death Day. Menawarkan premis yang menarik, film garapan sutradara Cristopher B. Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones) ini berhasil menyajikan ketegangan yang menghibur di balik pengulangan yang tak membosankan. Happy Death Day hadir sebagai film berbujet rendah (hanya US$4.8 juta) yang akan disukai penikmat film horor.

Tree Gelbman (Jessica Rothe) terus mengulang hari ulang tahunnya yang pada malamnya dia akan terbunuh oleh pembunuh bertopeng bayi. Dia harus mengulang kematiannya dan mengulang hari yang sama sampai menemukan pembunuh sebenarnya. Berbagai cara kematian dialami Tree berulang kali sampai dia cukup gila untuk tak peduli pada keadaan sekitarnya. Namun, saat Tree menemukan makna di balik pengulangan tersebut, dia pun menemukan hal yang selama ini dibuangnya dan bisa menilai siapa dirinya.


Tema mengulang hari yang sama bukan kali ini dibuat dalam film. Edge of Tomorrow, Haunter, bahkan film Korea A Day menggunakan tema time loop yang serupa. Namun, Happy Death Day tampil dengan kisah yang menarik dan menghibur. Tree bukanlah gadis yang baik hati. Dia egois, cenderung nakal, dan sering kali sikapnya menyakiti hati teman-temannya. Dia punya banyak alasan untuk dibunuh oleh siapa saja dan hal inilah yang akan terlihat di awal film, membuat kita mulai menebak-nebak pembunuhnya.

Sekilas, misteri dan ketegangan yang ditawarkan Happy Death Day terasa seperti serial Pretty Little Liars karena terlihat klise dan standar. Isu remaja ‘nakal’ yang dibunuh karena alasan yang tak diketahui memang tak bisa dibilang baru dan brilian. Namun, penemuan jati diri yang ditemukan pada akhirnya membuat film ini jauh lebih berharga untuk ditonton dibandingkan drama kampus biasa yang pembunuhnya adalah serial killer. Meski begitu, film ini juga tak luput dari unsur romansa yang bisa dibilang cukup manis untuk sebuah film horor. Israel Broussard sebagai Carter Davis terlalu charming untuk sebuah film horor.


Happy Death Day sukses menyajikan unsur horor dan komedi dalam porsi yang pas. Pada dasarnya, mengulang kematian itu sendiri adalah hal yang mengerikan. Namun, bisa dibilang Happy Death Day tak ingin membuat penonton merasa ngeri sepenuhnya dengan memasukkan unsur komedi yang natural, terutama melalui Rachel Matthews yang berperan sebagai Danielle. Sebagai pemimpin perkumpulan kampus yang juga diikuti Tree, Danielle adalah karakter yang akan membuat kalian tertawa hanya dengan melihatnya bicara.

Rothe sendiri bisa dibilang adalah faktor utama yang membuat Happy Death Day jadi horor komedi yang alami. Karakternya yang bersemangat, pemberani, dan pantang menyerah membuat perjuangannya menemukan pembunuh dirinya jadi layak diikuti sampai akhir. Rothe juga berhasil menggambarkan karakter Tree yang lucu meski tak melawak. Tree yang bosan dan kesal karena terus-terusan dibunuh dan mengulang hari yang sama hanya untuk dibunuh telah memberikan hiburan yang menarik untuk penonton.


Happy Death Day tak benar-benar mengerikan, tapi film ini menghibur dengan ketegangan minimal yang ditawarkannya. Sungguh, mengikuti sepak terjang Tree sampai menemukan pembunuhnya adalah hal paling menghibur dalam film ini dan memang itulah inti film ini.