Blade Runner 2049 Bukan Film untuk Yang Kurang Sabar

by Prima Taufik 342 views

Blade Runner 2049 Bukan Film untuk Yang Kurang Sabar
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Visual dystopia yang membuat mata kita betah memandang layar selama hampir 3 jam.

Film pertama Blade Runner adalah sebuah mahakarya yang digolongkan dalam kategori klasik. Banyak perdebatan tentang apakah perlu dibuat sekuelnya atau tidak. Jawabannya adalah tidak, tapi tetap saja kuasa uang dan rasa gatal untuk mencoba menyaingi kehebatan film orisinalnya membuat segalanya menjadi mungkin. Sony Pictures/WB Pictures memercayakan Denis Villeneuve untuk menjadi orang yang akan melanjutkan visi Ridley Scott puluhan tahun silam. Dengan rekam jejak seperti Arrival dan Sicario, Denis diharapkan mampu menyamai atau melebihi visi terdahulu. 

Ryan Gosling (Driver) menjadi pilihan utama untuk dibebani tugas menghidupkan film ini, Ia memerankan polisi masa depan yang mendapat tugas memburu android jenis lama. Tugas yang akan membawanya pada hal-hal yang mengubah hidupnya selama film berlangsung. Ia tak sendiri, Ana De Armas (Overdrive) si cantik asal Kuba kelahiran 1988 juga menemaninya sepanjang film. Hubungan mereka yang unik menjadi salah satu titik menarik di dalam film. Unik seperti apa? Hal ini hanya bisa kita pahami jika sudah menonton filmnya. Walau Gosling tak banyak berbicara sepanjang film, kita akan bisa merasakan kegalauan yang sama. Demi memiliki hubungan dengan film orisinalnya, mau tak mau Harrison Ford pun walau sudah uzur terpaksa turun gunung dan berakting kembali. 

Salah satu kehebatan dariVilleneuve adalah ia bisa membawa kesunyian yang puitis dalam setiap filmnya. Menikmati karyanya seperti berenang di sungai yang tenang, tapi kita tak sadar terbawa hanyut arus deras yang berujung pada air terjun nan mematikan. Hal yang sama juga tertuang dalam Blade Runner 2049. Dengan tempo yang sangat lambat, kita dijejali banyak visual yang memukau mata. Penggambaran suasana tahun 2049 yang suram, tapi sangat maju dan perbedaan golongan kelas atas dan masyarakat bawah yang bertolak belakang membawa kita ikut masuk dalam dunia yang dia ciptakan. Masa depan rekaan yang terasa sangat realistis. Penempatan unsur aksi yang minim, tapi terasa pas dan sesuai porsi. Mungkin tak ada yang berlebihan dari film ini kecuali durasinya.


Durasi 2 jam 44 menit bukan waktu yang sebentar untuk membuat penonton bertahan di dalam bioskop. Apalagi untuk film dengan genre non-populer seperti ini. Sudah terbukti, sebagian orang memilih walkout di tengah film. Ceritanya memang hanya standar film sci-fi yang bagi penikmat genre ini tentu mudah sekali ditebak ke mana alurnya. Namun, proses perjalanan tokoh utama sepanjang film dan pergulatan dirinya dengan informasi yang dia dapatkan dan sedikit twist menuju akhir akan terbayarkan jika mau bersabar. Film ini ditujukan untuk orang yang menyukai proses. Untuk kita yang hanya mencari eskapisme disarankan pilih film lain yang lebih ringan.

Tata artistik film memang menjadi jualan utama film ini, jujur saja tanpa visual memukau di depan mata, film ini tak lebih dari drama-drama pencarian jati diri yang banyak di film-film indie festival. Sisi teknisnya yang membuatnya naik kelas dan tayang di jaringan mainstream. Tapi, tetap saja ini bukan jenis film untuk semua orang, film yang sarat akan quote kehidupan dan filosofi ini akan membuat mereka yang merasa paham akan angguk-angguk kepala dan yang bosan akan menguap dan terlelap. 


Artikel Terkait