Tokyo Ghoul Masih Terasa Kurang Berjiwa

by Irna Gayatri 363 views

Tokyo Ghoul Masih Terasa Kurang Berjiwa
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Live-action ini sebenarnya baik di beberapa aspek, sayangnya beberapa pengubahan membuatnya jadi kurang berjiwa.

Mengangkat manga dan anime populer menjadi sebuah live-action memang tak pernah jadi pekerjaan yang mudah. Tentu saja, memasukkan sebuah arc dalam film yang hanya berdurasi sekitar 120 menit pasti memiliki kesulitan tersendiri. Bahkan jika hasilnya baik, tetap akan ada lubang di sana-sini yang membuat beberapa live-action tak bisa memuaskan harapan para penggemar manga dan anime-nya. Meski begitu, live-action Tokyo Ghoul bisa dibilang bermain aman.

Ya, aman karena film berusaha sebisa mungkin memadatkan tiga volume manga dalam satu film. Akhirnya, daripada dianggap terburu-buru dalam alurnya dengan menghilangkan beberapa bagian, sang sutradara, Kentaro Hagiwara, bermain dengan alternatif lain, yaitu sedikit improvisasi dalam alur dasarnya. Secara garis besar, live-action ini memang cukup setia terhadap manga-nya, namun juga tak sepenuhnya begitu.

Tokyo Ghoul merupakan adaptasi dari manga karya Sui Ishida yang berjudul sama. Manga-nya mengisahkan tentang Ghoul, ‘monster’ pemakan manusia, yang wujudnya menyerupai manusia dan hidup di antara manusia. Ghoul hanya bisa memakan manusia dan mereka bersembunyi di balik bayang-bayang Tokyo. Di antaranya ada Kaneki Ken, seorang manusia yang nyaris dimakan oleh Ghoul bernama Rize, namun berhasil bertahan hidup setelah mendapatkan transplantasi organ. Setelah itu, Kaneki harus menerima kenyataan bahwa dia harus memakan manusia untuk bertahan hidup, sekaligus beradaptasi dengan dunia barunya yang dipenuhi para Ghoul.


Mudah menjelaskannya dalam sebuah tulisan, namun sebenarnya sulit menggambarkan situasi yang menimpa Kaneki dalam sebuah film. Dalam sebuah adaptasi, tak hanya plot, penggambaran karakter yang sesuai juga sangat penting. Sayangnya, Tokyo Ghoul tak bisa disebut sukses di kedua bagian ini. Tidak gagal, tapi juga tidak sukses.

 

Setelah ini akan ada major spoiler.

 

Sesungguhnya, dalam film ini ada cukup banyak plot hole yang akan membingungkan penonton awam. Pertemuan Kaneki Ken (Masataka Kubota) dan Rize Kamishiro (Yuu Aoi) di Anteiku, misalnya. Tanpa diketahui alasannya, tiba-tiba saja keduanya berkencan. Lalu, pada malam hari kencan mereka, Rize yang mengajak Kaneki pulang bersama membawa Kaneki ke lorong yang gelap dan sepi. Saat itu, dalam manga dan anime, Touka Kirishima (Fumika Shimizu), salah satu Ghoul yang bekerja di Anteiku, melihat mereka berdua. Dalam live-action ini, Tak ada satu pun orang di Tokyo yang melihat Rize dan Kaneki meski mereka hanya pergi ke bawah jembatan.

Selanjutnya, mengenai transplantasi organ yang dilakukan kepada Kaneki. Sejujurnya, bagian ini benar-benar membuat bingung penonton awam karena penjelasan mengenai transplantasi organ hanya diberikan melalui liputan televisi yang dilihat oleh Kaneki. Untungnya, proses Kaneki yang mulai tak bisa menerima makanan manusia sampai dia ‘kelaparan’ bisa tergambarkan dengan baik berkat akting Kubota yang patut diacungi jempol.


Ya, akting para pemerannya memang benar-benar menyelamatkan film ini. Bisa dikatakan bahwa casting-nya dilakukan dengan sangat baik. Meski Rize tidak ditampilkan berambut ungu seperti dalam anime, Yuu Aoi bisa menggambarkan Rize dengan sangat baik. Dia bisa berperan menjadi gadis yang manis, lalu berubah menjadi seperti seorang psikopat kelaparan saat akan memakan Kaneki. Pemeran lainnya pun berhasil merepresentasikan karakter mereka dengan baik. Sayangnya, Amon Kotaro yang diperankan oleh Nobuyuki Suzuki lebih terlihat seperti pria galak dibandingkan dingin dan menjunjung tinggi keadilan. Tapi, terlepas dari itu, secara keseluruhan, pemilihan para pemerannya sudah sangat tepat.

Namun, itu saja tak berhasil menyelamatkan live-action ini dari menjadi-kurang-berjiwa. Hal penting seperti Rize yang selalu menghantui Kaneki dan membuat Kaneki hampir kehilangan dirinya tak ditampilkan di film ini. Akibatnya, perubahan karakter Kaneki jadi tidak terasa. Kentaro Hagiwara bermain aman dengan membuat karakter Kaneki Ken menjadi kuat, paling tidak cukup kuat untuk mengalahkan Amon Kotaro. Padahal, Kaneki seharusnya masih lemah saat melawan Amon. Dia menjadi kuat berkat bantuan Rize. Tapi, apa serunya menonton film yang pemeran utamanya lemah? Mungkin hal inilah yang menjadi pertimbangan.


Live-action ini memang tidak buruk, tapi juga bukan yang terbaik. Efek CGI  untuk menghidupkan kagune tak cukup membangkitkan aksi yang dibutuhkan. Kagune Touka dan Kaneki membuat Ghoul terlihat seperti alien dalam Parasyte. Tapi, sekali lagi, secara keseluruhan, usaha Hagiwara untuk membuat live-action ini setia terhadap manga-nya patut diberi penghargaan. Yang pasti, wardrobe-nya sama sekali tak mengecewakan. Topeng Kaneki benar-benar terlihat keren di film ini.