IT Jujur Tampilkan Kengerian Terbesar Anak-anak

by Irna Gayatri 975 views

IT Jujur Tampilkan Kengerian Terbesar Anak-anak
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Ketakutan adalah makanan lezat untuk Pennywise!

Badut sampai saat ini telah menjadi karakter ikonik sebagai sosok yang membawa keceriaan bagi anak-anak. Namun, badut juga merupakan karakter ikonik dalam IT yang telah menghantui anak-anak sejak 1990. Sejak Tim Curry memerankan sosok Pennywise dalam mini series IT, sosok badut yang menyerang anak-anak langsung menjadi ikon horor klasik.

Tahun ini, Andy Muschietti menghadirkan kembali badut ikonik Pennywise ke layar lebar. IT produksi New Line Cinema masih diadaptasi dari novel Stephen King yang berjudul sama, mengisahkan tentang hilangnya anak-anak di Derry, Maine. Anak-anak yang menghilang dianggap meninggal, namun Bill Denbrough (Jaeden Lieberher) yakin bahwa adiknya, Georgie (Jackson Robert), menunggu untuk ditemukan. Akhirnya, pada liburan musim panas, Bill dan teman-temannya dari The Losers Club melakukan pencarian yang berujung kepada pertemuan mereka dengan entitas yang disebut ‘it’ yang mengambil wujud sebagai badut bernama Pennywise. Saat itulah mereka harus menghadapi ketakutan terbesar mereka untuk mencegah Pennywise memakan lebih banyak korban.

IT benar-benar brilian. Sebagai film horor yang mengambil latar waktu tahun 1989, IT detail membangun suasana kota kecil Derry, Maine, dan orang-orang di dalamnya. Detail ini juga terlihat melalui pakaian dan aksesori para karakter, seperti kacamata Richie Tozier (Finn Wolfhard) dan gaun Beverly Marsh (Sophia Lillis). Tentu saja rumah-rumah, bangunan-bangunan, dan alat transportasi di Kota Derry juga tak luput dari detail ini.


Plot, karakter, dan konflik dalam IT membuat film ini menyenangkan sekaligus mengerikan. Berbeda dengan film horor pada umumnya yang membangun suasana suram sejak awal dengan pencahayaan yang gelap dan efek yang suram, IT justru cukup ceria sejak awal. Liburan musim panas masih menjadi hal yang menyenangkan bagi siswa SMP dan hal itu tak diabaikan dalam film ini. The Losers Club masih bersenang-senang. Meski mengalami banyak hal yang sebenarnya cukup mengerikan dalam liburan mereka, mereka tetaplah anak-anak beranjak remaja yang menikmati kebersamaan mereka. Apa pun bisa dilakukan asal bersama teman-teman dan The Losers Club benar-benar melakukan itu. Dan karena itulah kengerian dalam IT juga disajikan melalui sudut pandang anak-anak 

Pendekatan yang dilakukan sangat menarik, yaitu dengan membuat Pennywise mengganggu dan menghantui anak-anak di Derry sebebas mungkin. Bebas karena penonton tak diizinkan mengetahui kapan Pennywise akan muncul. Saat momentumnya tiba, Muschietti tak membiarkannya cepat berakhir. Hal ini menarik mengingat film horor yang terlalu mengumbar hantunya biasanya jadi kurang mengerikan. Namun, IT berhasil mempertahankan kengerian yang dibutuhkan dengan durasi yang panjang dan kemunculan yang lebih banyak.

Bisa dikatakan, meski sudah tahu bahwa Pennywise adalah entitas berjiwa iblis yang merupakan villain dalam film ini, IT sama sekali tak membosankan. Berbagai kemunculan Pennywise dikemas dengan pas, tak berlebihan. Kengeriannya alami dan konstan, namun tetap memberi jeda untuk tertawa. Terima kasih kepada Finn Wolfhard (Stranger Things) yang berhasil memberi humor segar hampir di sepanjang film. Julukan ‘Trashmouth Tozier’ atau Tozier si Mulut Kotor tak mungkin diberikan tanpa sebab, ‘kan?

Hal terbaik dari IT memang karakter The Losers yang diperkenalkan dengan sangat baik. Berkat itu, penonton mengenal mereka dan melihat ketakutan dari sudut pandang mereka, anak-anak di Derry, Maine. Ketakutan mereka sederhana. Meski begitu, karena pendekatan yang sangat personal terhadap setiap karakternya—personal, namun tak membuang waktu karena mengalir sesuai alur—akhirnya ketakutan tersebut jadi bagian yang tak terlepaskan dari film ini. Pennywise bisa menjadi apa saja, apa pun yang ditakutkan anak-anak.

Jelas, jika dibandingkan dengan mini series-nya yang tayang pada 1990, film ini jauh lebih baik dalam berbagai aspek. Pennywise yang diperankan Tim Curry memang berhasil memunculkan persepsi kengerian badut dengan sangat baik. Namun, Pennywise versi Bill Skarsgard juga merupakan Pennywise yang ideal. Di satu sisi, Pennywise versi Bill bisa sangat kekanak-kanakan, namun di sisi lain bisa terlihat sangat mengerikan. Kengerian ini juga cukup unik karena dikejar-kejar badut yang tertawa lebar adalah kondisi yang sangat tak biasa.


Bagaimana pun, IT sukses membuka universe-nya dan tak mengecewakan. Tempo yang pas, pendekatan yang alami, gaya penceritaan yang memanfaatkan sudut pandang anak-anak, scoring yang pas, sampai watak setiap karakter yang terangkat dengan sangat baik membuat 135 menit film ini sama sekali tak membosankan. Mungkin masih akan ada pendapat bahwa film ini tak semengerikan yang dibicarakan karena Muschietti memang tak bermain dalam area yang gelap untuk menakuti siapa pun yang menontonnya, melainkan memunculkan kengerian yang kontras yang mungkin berbeda-beda bagi setiap orang.

Jadi, meski tak menjadi yang paling seram dan membuat penonton sampai bermimpi buruk, IT jujur terhadap kengerian yang sebenarnya. Bagaimana pun, Pennywise akan kembali lagi 27 tahun mendatang, saat The Losers Club beranjak dewasa. Tak menutup kemungkinan bahwa film berikutnya akan menyoroti masa ini, seperti yang dilakukan dalam mini series-nya.


IT diproduksi oleh Roy Lee bersaa Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg, dan Barbara Muschietti. Naskahnya ditulis oleh Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman. Film ini juga dibintangi oleh Jeremy Ray Taylor, Wyatt Oleff, Chosen Jacobs, Jack Dylan Grrazer, dan Nicholas Hamilton.

Jadi, siapkah menghadapi ketakutan terbesarmu?

Artikel Terkait