The Emoji Movie Berusaha Menghibur, tapi Terasa Setengah Hati

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 247 views

The Emoji Movie Berusaha Menghibur, tapi Terasa Setengah Hati
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Mencoba lucu, tapi lucunya bersifat regional.

Masing-masing genre film tentu punya tantangan tersendiri. Horor ditantang untuk menakut-nakuti penontonnya secara elegan, tapi tidak terlebihan. Aksi ditantang jadi tontonan yang seru dan tidak membosankan dari segi intensitas ketegangannya. Kartun yang kerap dipandang sebelah mata pun ternyata punya tantangan tersendiri. Bagaimana membuat kisah yang bersifat general dengan lelucon yang bisa diterima semua kalangan, apa lagi jika karakter yang diangkat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tantangan inilah yang agaknya sukar ditaklukkan oleh The Emoji Movie. Kisahnya mengingatkan kita pada saat Lego The Movie rilis. From nobody to somebody. Karakternya sama, seorang warga kota yang biasa-biasa saja dan ingin dirinya berharga. Namun, pada saat berusaha mewujudkan hal itu, dirinya malah menimbulkan serangkaian kekacauan yang berakibat pada petualangannya berusaha memperbaiki kekacauan tersebut. Salah satu tokoh yang cukup disegani dalam kota ternyata adalah sosok antagonis yang ingin melenyapkan jagoan utama untuk selamanya.

Terasa klise memang, tapi toh formula ini masih cukup ampuh diterapkan di layar lebar terutama film-film kartun yang menyasar berbagai kalangan. Orang tua tidak perlu sibuk menjelaskan hal-hal yang rumit dan anak-anak bisa menyaksikan dengan tenang sambil sesekali tertawa melihat tingkah polah karakter utama.


Sayangnya, meski berbekal materi tersebut The Emoji Movie terasa kedodoran dari segi penceritaannya. Karakter yang dipilih sebagai tokoh utama pun terasa kurang menarik. Hi-5 sebagai karakter pendamping pun luar biasa menyebalkannya dan terlalu cerewet. Jujur saja, kebanyakan orang Indonesia mungkin jarang menggunakan emoji ‘Meh’ atau Hi-5 di percakapan mereka. Tidak hanya itu, lelucon yang biasanya jadi sajian utama film-film sejenis ini malah tidak lucu. Tidak lucu bagi orang dewasa, tapi bisa jadi kurang dimengerti anak-anak. Beberapa momen memang bisa mengundang tawa, tapi selebihnya adalah rasa bosan yang menyerang.

Kehadiran Candy Crush pun terasa seperti tempelan saja karena cepatnya ketiga tokoh utama “melewati” aplikasi ini. Selain itu, kemunculan Just Dance pun terasa asing. Sulit memang menghadirkan film dengan berpedoman pada aplikasi-aplikasi yang terkadang hanya tenar di satu region saja.

Namun, meski mendapat kritik negatif di Amerika, agaknya The Emoji Movie akan bisa berbicara banyak di Indonesia sebagai tontonan ringan di akhir pekan dengan keluarga. Akan tetapi, dengan saingan Annabelle Creation, sanggupkah film yang mendapat rating 1 bintang di IMDB ini bisa berbicara banyak?