Drone Berikan Ketegangan Personal yang Cepat Berakhir

by Irna Gayatri 286 views

Drone Berikan Ketegangan Personal yang Cepat Berakhir
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Seorang pilot drone harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Isu Timur Tengah sampai saat ini masih jadi perbincangan hangat. Islamophobia juga masih menjadi salah satu ketakutan terbesar di Eropa dan Amerika Serikat. Melihat kedua hal tersebut, sutradara asal Kanada, Jason Bourque, menghadirkan ketegangan yang personal dalam Drone. Film thriller berdurasi 91 menit ini dibintangi oleh Sean Bean (Game of Thrones) dan Patrick Sabongui (Power Rangers).

Film dibuka dengan sebuah pengeboman yang terjadi di sebuah kawasan di Pakistan. Pengeboman ini merupakan bagian dari misi CIA untuk membasmi para teroris. Anehnya, pengeboman tersebut tidak dilakukan oleh pilot militer, melainkan pilot pesawat drone bernama Neil (Sean Bean). Tentu saja, hal ini merupakan bagian dari misi rahasia CIA sehingga Neil pun menyimpan rapat-rapat rahasia ini dari keluarganya.

Tak ada masalah berarti yang dihadapi oleh Neil sampai suatu hari seorang pebisnis dari Pakistan datang kepadanya. Imir (Patrick Sabongui) datang untuk membeli perahu motor peninggalan ayah Neil. Tanpa menaruh kecurigaan, Neil dan keluarganya menerima Imir di rumah mereka. Namun, ternyata, ada maksud lain dari kedatangan Imir ke rumah mereka.

 

Sebagai film thriller, Drone “lambat start memberikan ketegangan yang diperlukan. Sampai setengah film berjalan, Drone masih bertele-tele menjabarkan masalah keluarga yang dialami Neil, padahal konflik yang sesungguhnya muncul setelahnya. Hal ini membuat Drone justru jadi seperti film drama keluarga pada awalnya. Sebenarnya masalah keluarga ini bisa jadi poin menarik jika setidaknya terselesaikan dengan baik di klimaksnya. Sayangnya, klimaksnya pun hanya mampu menjawab satu masalah, yaitu betapa kehilangan keluarga adalah hal yang paling menyakitkan di dunia. Semua permasalahan lainnya seakan terpecahkan tanpa penyelesaian.

Akhirnya, sebagai film thriller, Drone justru lebih ringan dari yang dibayangkan. Ketegangan yang seharusnya dimunculkan lebih banyak malah berakhir dengan cepat. Meski begitu, plot twist yang ditawarkan membuat film ini berakhir dengan cukup memuaskan. Drone adalah film tentang kemanusiaan. Seorang pilot drone yang mengebom suatu area bahkan bisa jadi lebih tak berperikemanusiaan dibandingkan dengan pilot militer yang mengebom dengan tangannya sendiri di tempat kejadian.

Ada banyak hal yang dipertanyakan terkait moralitas perang dalam film ini, khususnya perang melawan kelompok radikal yang mengatasnamakan sebuah agama. Perang yang diikuti oleh seorang pilot drone dan perang yang diikuti oleh pasukan militer, manakah yang lebih bermoral? Bukankah korbannya juga manusia; ayah, ibu, anak, kakek, dan nenek dari sebuah keluarga? Semua pertanyaan ini diungkapkan dengan baik oleh Sabongui yang berhasil menyentuh sisi-sisi kemanusiaan yang diyakininya dan mempertahankannya sampai akhir.

Drone mungkin bukan film thriller yang mampu membuat Jelata menjerit ngeri. Namun, film ini—sebagaimana film perang lainnya—akan membawa Jelata berpikir lebih jauh mengenai kepentingan perang. Apakah segala tindakan yang dilakukan oleh satu pihak dan dianggap benar juga akan dianggap benar oleh pihak lainnya? Apakah semua tak berdampak? Film ini memberikan sudut pandang yang lebih personal yang mungkin dirasakan oleh para korban perang di seluruh dunia.