Belajar Sejarah Pala Lewat Banda: The Dark Forgotten Trail

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 952 views

Belajar Sejarah Pala Lewat Banda: The Dark Forgotten Trail
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Dokumenter tidak melulu tentang kesulitan hidup atau tokoh masyarakat. Sheila Timothy dan Jay Subiyakto mengangkat sejarah dalam dokumenter terbaru mereka, Banda: The Dark Forgotten Trail.

Anggapan bahwa film dokumenter adalah film yang membosankan karena tidak ada alur cerita, sinematografi dan gerakan kamera yang monoton, serta ketiadaan unsur musik sebagai pendukung cerita agaknya bisa dipatahkan jika kita menyaksikan Banda: The Dark Forgotten Trail ini. Jika umumnya kisah dokumenter kebanyakan mengangkat mengenai kisah-kisah kaum marjinal atau minoritas, kini kita akan diajak menelusuri salah satu pulau di Indonesia yang dulu pernah tersohor karena hasil rempah-rempahnya hingga menjadi rebutan berbagai bangsa di Eropa, Banda.

Dinarasikan oleh suara empuk Reza Rahadian, Banda: The Dark Forgotten Trail mengisahkan kedigdayaan salah satu pulau di Indonesia Timur ini akibat hasil Bumi mereka yang melimpah, yaitu rempah-rempah, terutama sekali pala. Pada zaman penjajahan, pala menjadi rebutan bangsa Eropa, seperti Spanyol, Portugis, Inggris, hingga Belanda karena rempah-rempah adalah komoditi yang sangat berharga. Lewat dokumenter ini, kita diajak mengetahui asal-usul pala, alasan pala menjadi bahan rebutan berbagai negara yang singgah di Banda, hingga kejatuhannya.

Tidak sekadar menyorot pala, dokumenter perdana Lifelike Pictures dengan menggandeng sutradara yang sudah malang-melintang di dunia video klip, Jay Subiyakto, ini juga menceritakan masyarakat Banda yang terdiri dari berbagai etnis dan suku. Nenek moyang mereka dibawa secara paksa ke Banda untuk mengelola perkebunan pala hingga akhirnya menetap dan beranak-pinak di sana. Ada pula kisah mengenai para pahlawan yang diasingkan ke Banda, seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, hingga Des Alwi.


Dengan bantuan Director of Photography Ipung Rachmat Syaiful yang telah memenangkan penghargaan di Festival Film Indonesia, kamera Jay bergerak secara dinamis. Tidak hanya sekadar merekam keindahan alam Banda, tetapi juga menangkap momen-momen dan bercerita. Semua itu turut terbantu dengan tiga editor yang bahu-membahu merangkai gambar hingga menjadi satu rangkaian yang asyik dilihat, yaitu Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan M Syauqi. Musik pun ditangani oleh Satrio Budiono yang menangani film dokumenter ini layaknya sebuah film fiksi epik. Kadang menghentak di satu bagian, lalu lembut dan mengalun di bagian lain.

Selama 94 menit, kita disuguhi gambar yang indah dan tidak monoton. Persis seperti melihat sebuah video klip yang super panjang. Artistik dan menarik karena kita disuguhi dengan gambar-gambar cepat. Namun sayangnya, Jay seakan lupa bahwa durasi film dokumenter yang lebih panjang daripada video klip ini akan melelahkan mata jika terus-menerus disuguhi gambar-gambar cepat tadi. Alhasil, di pertengahan film, kita sebagai penikmat pun mulai tidak nyaman dengan gaya sinematografi yang dihadirkan.

Secara keseluruhan, Banda: The Dark Forgotten Trail adalah sebuah film dokumenter sayang untuk dilewatkan. Jarang sekali film dokumenter digarap seserius ini. Keberanian Sheila Timothy untuk memproduseri film ini memang patut diacungi jempol. Tidak hanya sebagai hiburan, Banda: The Dark Forgotten Trail bisa jadi cara baru bagi kita untuk mempelajari sejarah sebuah daerah di Indonesia Timur yang sempat mengecap masa kejayaannya.