Spider-Man: Homecoming Hadirkan Kisah yang Lebih Membumi

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 493 views

Spider-Man: Homecoming Hadirkan Kisah yang Lebih Membumi
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Tidak ada nerd dan gloomy, yang ada hanyalah Peter Parker muda yang kekinian.

Mengulang film yang sudah mendapat reboot satu kali dan baik film orisinal maupun reboot pertama sukses, tentunya menjadi beban berat baik bagi sutradara maupun pemeran utama. Mereka harus dapat melampaui, minimal menyamai, pencapaian predesornya. Itulah anggapan seluruh pencinta film saat tahu bahwa Spider-Man akan diulang kembali dengan sutradara dan pemeran yang benar-benar baru. Hasilnya?

Jika Tobey Maguire diplot menjadi Peter Parker yang nerd dan Andrew Garfield menjadi Peter yang galau, maka Tom Holland sebagai muka baru Peter Parker diplot menjadi bocah yang lugu dan merasa penting karena mendapat kesempatan ambil bagian dalam Avengers. Plot ini terasa menyegarkan dan sesuai dengan jiwa anak muda. Bayangkan saat kita diberi kesempatan untuk membantu Avengers, pastinya kita selalu menunggu untuk dipanggil lagi hingga tidak memedulikan kegiatan lain. Penggambaran Peter ini terasa wajar.

Keputusan untuk tidak memasukkan awal mula Peter mendapat kekuatannya dan tragedi Paman Ben merupakan pilihan yang tepat. Meskipun tidak semua orang setuju, namun dengan asumsi bahwa semua orang sudah tahu yang terjadi, Jon Watts pun memutuskan untuk menampilkan fase lain dari kehidupan Peter. Misalnya, belajar memakai dasi atau belajar dansa. Agak receh, tapi terasa membumi dan relate dengan kita yang pernah ada di posisi Peter.


Satu hal yang menarik adalah interaksi antara Tony Stark dengan Peter Parker yang terasa layaknya interaksi antara ayah dan anak yang sedang beranjak dewasa. Bisa dibilang, kharisma Stark menjadi salah satu faktor penarik dalam film ini tanpa menjadi tokoh yang terlalu menonjol hingga mengalahkan Peter Parker. Hubungan Peter dengan Karen juga lucu dan menghibur, terutama saat mencoba berbagai mode dan jaring yang ada di kostum Spider-Man. Lupakan hubungan Peter dan Bibi May yang kuno, diperankan oleh Marissa Tomei, Bibi May tampil dengan lebih percaya diri, cantik, seksi, dan gaul. Bahkan, sebagian orang mungkin menonton Spider-Man: Homecoming untuk melihat Bibi May.

Perubahan juga dimunculkan dari segi kostum. Jika dulu kostum Spider-Man hanyalah menjadi kedok agar tidak ada yang tahu siapa sosok friendly neighbourhood ini, kali ini kostum ini dibuat lebih canggih. Mengingat pembuatnya adalah Stark, maka tidak heran jika terdapat berbagai perubahan seperti sistem komputer, berbagai pilihan jaring, mode instan membunuh, dan masih banyak lagi. Dan ini, menjadi tambahan nuansa segar lainnya dalam film ini.


Tapi, tentu saja tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan film ini. Jalan cerita yang sudah begitu apik agak menurun saat mendekati akhir, terutama pertarungan klimaks yang terasa disudahi begitu saja. Kasus yang sama seperti yang terjadi pada Iron Man 2 saat pertarungan pamungkas justru meleset jauh dari yang diharapkan. Kostum Vulture pun seakan hanya dimodifikasi sedikit dari Falcon sehingga tidak terlalu menimbulkan kekaguman.

Namun, secara keseluruhan, reboot Spider-Man ini cukup berhasil menampilkan imej friendly neighbourhood di tengah gegap-gempita akan kehadiran Avengers. Ditambah musik pembuka yang ikonik, Spider-Man: Homecoming adalah film perkenalan superhero di dunia MCU terbaik kedua setelah Iron Man.