In This Corner of the World Tampilkan Proses yang Patut Dihargai Semasa Perang

by Irna Gayatri 131 views

In This Corner of the World Tampilkan Proses yang Patut Dihargai Semasa Perang
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Perang mungkin memang tak pernah berakhir baik, namun prosesnya patut dihargai karena di dalamnya ada perjuangan banyak orang menghadapinya.

Film tentang perang mungkin identik dengan akhir yang tak bahagia dan penuh dengan air mata. Namun, bukan itu yang ingin diangkat dalam In This Corner of the World. Film garapan Sunao Katabuchi ini melihat perang dari sudut pandang yang berbeda.

Berlatar waktu pada 1930—1940-an di Hiroshima dan Kure, Jepang, film ini mengajak penonton melihat sisi lain kehidupan masyarakat Jepang yang sangat tradisional dan sederhana, kontras dengan perang mengerikan yang mereka hadapi. Meski fiktif, peristiwa dalam film ini dibuat berdasarkan fakta yang terjadi dalam sejarah. Bahkan, penggambaran Hiroshima sebelum dan setelah pengeboman dibuat akurat berdasarkan foto-foto, dokumen, dan kenangan yang dicetuskan oleh para penyintas perang.

In This Corner of the World adalah sebuah film tentang kesederhanaan dan kepasrahan seorang gadis asal Hiroshima yang harus pergi ke Kure dan menyesuaikan diri dengan keadaan di tempat baru. Kure, tak seperti Hiroshima, merupakan garis depan dalam Perang Pasifik. Masyarakat Kure sebagian besar bekerja untuk Angkatan Laut dan berkontribusi dalam perang. Kehidupan masyarakat Kure begitu dekat dengan serangan bom dari udara dan laut.

Diadaptasi dari manga karya Fumiyo Kono yang memenangkan banyak penghargaan, film ini menghadirkan idealisme yang humanis, bukan propagandis seperti yang mungkin biasa muncul di banyak film perang ala Hollywood. Tokohnya sendiri tak begitu saja menerima perang yang terjadi, meski pada saat yang sama juga tak mengeluhkan keadaan. Para tokohnya mengalami kepahitan, rasa bersalah, pergolakan batin, serta permasalahan moral lainnya.

Suzu (Rena Nonen) melihat berbagai masalah di depannya dengan cara yang sangat sederhana. Kebiasaannya melamun, kesukaannya menggambar berbagai hal, dan kemampuannya untuk selalu berpikir positif membawanya melewati masa pahit selama Perang Pasifik hampir tanpa keluhan yang berarti. Bermula dari kehidupan di Hiroshima bersama keluarga dan teman-temannya yang penuh kasih, Suzu pindah ke Kure dan menemukan keluarga baru yang juga menerimanya dengan penuh kasih sayang. Semua itu memberikan kebahagiaan yang sederhana bagi Suzu, juga bagi keluarga suaminya. 


Meskipun berlatar Perang Pasifik di Kure dan Hiroshima, film ini lebih menonjolkan masa peralihan Suzu, seorang gadis yang dijodohkan pada usia 18 tahun, menjadi perempuan dewasa yang tegar menghadapi kehidupan barunya. Pindah ke rumah suaminya, Houjou Shuusaku (Yoshimasa Hosoya), Suzu merasakan kehangatan dan cinta pada masa-masa tersulit.

Berbagai kehilangan dirasakan, namun hal penting yang selalu diingat Suzu dan keluarga suaminya adalah bersyukur atas segala sesuatu yang masih dimiliki. Masa perang sungguh masa yang sulit. Dilihat dari sudut pandang Suzu sebagai ibu rumah tangga, dia harus berpikir keras untuk keluar dari masalah jatah beras dan gula yang dikurangi, kemudian dihapuskan. Suzu berjuang sebagaimana seharusnya dirinya berjuang. Film ini menyoroti kontribusinya semasa perang untuk tetap bertahan bersama keluarganya yang sederhana.


MAPPA menghadirkan gambar yang begitu hidup. Pergerakan animasinya yang lembut menghadirkan suasana nyaman, sekali pun para tokohnya sedang berada dalam masa-masa sulit. Warna-warna pastel cat air menjadi dasar animasinya. Penggambaran lanskap alam Kure yang tetap indah meski perang berlangsung juga menjadi salah satu sisi yang ironis. Meski begitu, ketegangan yang dirasakan pada detik-detik terjadinya serangan udara dan pengeboman di Hiroshima berhasil membuat merinding.

Film ini punya alur yang lambat, namun asyik dinikmati. Setiap gambar yang ditampilkan tak ada yang sia-sia karena berkaitan satu sama lain. Pertemuan demi pertemuan berakhir dengan pemaknaan hidup. Peperangan yang menjadi latar belakangnya juga menjadi konflik yang melekat dengan jalan cerita keseluruhan. Proses menuju kedewasaan memang tak berjalan mulus, namun detik demi detiknya patut dihargai. Itulah yang bisa ditemukan dalam In This Corner of the World.

In This Corner of the World sama sekali tak boleh dilewatkan untuk dinikmati akhir pekan ini. Film ini telah memenangkan banyak penghargaan di Jepang, termasuk "Best Animation of the Year" dalam 40th Japan Academy Prize. Film ini akan membawa Jelata menyaksikan pengalaman yang berbeda dalam masa terpahit Perang Pasifik di Jepang.