The Mummy Berikan Pondasi Kurang Meyakinkan Sebagai Pembuka Dark Universe

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 579 views

The Mummy Berikan Pondasi Kurang Meyakinkan Sebagai Pembuka Dark Universe
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Apakah The Mummy menjadi reboot sekaligus pondasi dasar Dark Universe yang cukup memuaskan?

Tidak ingin kalah dengan Disney-Marvel atau Warner Bros. yang sudah terlebih dulu mengembangkan Cinematic Universe versi mereka sendiri, Universal Pictures pun juga rupanya kepincut ingin menyatukan “jago-jago” mereka. Jika kedua studio raksasa tersebut mengumpulkan para superhero, maka Universal rupanya punya ide yang lebih ambisius lagi: menyatukan dewa dan monster yang mereka pegang hak ciptanya dalam satu semesta. Jadilah, Dark Universe. Dan, The Mummy adalah perkenalan bagi semesta baru tersebut.

Bila The Mummy milik Brendan Fraser masuk ke dalam daftar salah satu film aksi memorable kalian, maka bisa jadi remake ini juga akan kalian sukai. Dua petualang beda jenis? Ada. Adegan aksi? Tentunya. Jangan lupakan pula tribut untuk film aslinya, di mana adegan serangan badai pasir maha dahsyat di kota London menampakkan muka sang mumi jahat, persis dua film orisinalnya. Namun, tentu saja film ini bukan hanya sekadar ‘buatan-ulang’ dari versi 1999. Pertanyaannya adalah apakah film pembuka Dark Universe ini akan semenarik dan sememorable film The Mummy-nya Brendan Fraser?

Jika dulu arahan Stephen Sommers lebih mengedepankan sisi aksi-komedi berbalut supranatural, kini Alex Kurtzman menghadirkan kisah mumi yang lebih dark untuk menjadi pondasi bahwa Dark Universe akan memiliki kisah yang cukup kelam. Karena itu, The Mummy versi milenium ini akan penuh nuansa horor. Para muminya pun mengingatkan kita dengan game-game Resident Evil


Sebuah perubahan yang jelas menarik dan memberi angin segar. Bagaimana pun, Tom Cruise adalah bintang laga yang memang tidak bisa bertingkah konyol seperti Fraser sehingga komedi pun tidak menguasai setengah dari film ini. Tapi, film ini tidak bisa dibilang tanpa komedi sama sekali karena banyak adegan konyol yang kadang bisa bikin tertawa, diselipkan di antara momen horor yang membuat nafas tertahan. Sayangnya, kadang penempatan adegan komedi ini tidak pas sehingga momen yang harusnya bisa dbangun dengan baik menjadi turun karena komedinya tidak lucu.

Tidak hanya mumi, Universal pun memutuskan untuk mengenalkan karakter Dr. Jekyll/Mr. Hyde. Langkah yang cukup berani mengingat karakter ini tidaklah sefamiliar mumi, drakula, atau manusia serigala dan tidak banyak orang yang tahu latar belakang monster dengan dua kepribadian dalam satu tubuh ini. Namun, dengan menggamit Russell Crowe (Man of Steel) yang sudah banyak makan asam-garam di dunia perfilman, karakter ini menjadi salah satu karakter yang cukup memberi kesan kuat dalam film ini. 

Selain Cruise yang memerankan tokoh utama, banyak tokoh pendukung yang kehadirannya hanya seperti tempelan belaka dan tidak jelas tujuannya. Salah satunya adalah Vail (Jake Johnson) yang pada permulaan film terlihat penting, namun makin ke belakang makin tidak jelas perannya. Yang paling disayangkan tentunya peran Annabelle Walis yang terkesan hanya jadi wanita yang merepotkan dan love interest yang tidak meyakinkan.

Yang paling menarik perhatian dari film ini tentu saja aksi Sofia Boutella (Kingsman: The Secret Service) sebagai Putri Ahmanet yang seksi sekaligus kejam. Sepanjang film, Sofia yang jarang mendapat dialog dan lebih sering menonjolkan ekspresi wajah berhasil membuat penonton percaya jika ia sadis dan tanpa ampun. Setiap kemunculannya di layar menjadi hal yang menarik untuk disimak. Namun, ia sendirian tentu tidak bisa mengangkat film ini tanpa kolaborasi yang baik dengan lawan main yang lain. Untungnya, Boutella lebih banyak beradegan dengan Cruise yang sepertinya tanpa beban bermain di film ini. 


Sebagai pembuka suatu universe yang lebih besar seharusnya banyak yang bisa digali dalam The Mummy, namun film ini seperti terlalu buru-buru untuk segera masuk ke pusat konflik sehingga banyak mengorbankan latar belakang cerita. Pondasi yang dipancangkan untuk menjadi tonggak universe ini ke depannya terasa kurang kuat dengan banyaknya pertanyaan yang menggantung saat film berakhir. 

Yang paling membingungkan adalah akan seperti apa posisi para monster ini nantinya di dalam semesta besar ini. Protagonis? Antagonis? Abu-abu? Belum ada petunjuk sama sekali mengenai rancangan dunia Dark Universe ini ke depannya. Mungkin mereka memang membuatnya sebagai kejutan atau malah baru sekedar tes ombak dengan The Mummy sebelum membuat rancangan yang menuju film pamungkas ala Avengers atau Justice League mereka.

Namun, bagi kalian penyuka tipikal film musim panas yang memang disuguhkan untuk bersenang-senang, film ini memenuhi kriteria itu. Nikmati dan tersenyumlah saat lampu bioskop menyala begitu film selesai. Tidak perlu memusingkan kepala tentang semesta para monster ini.