DC Memang Butuh Sentuhan Wonder Woman Untuk Mengubah Nasib

by Prima Taufik 1253 views

DC Memang Butuh Sentuhan Wonder Woman Untuk Mengubah Nasib
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Benar kata pepatah. Di balik sosok yang kuat, terdapat wanita yang lebih kuat.

Menunggu selama 75 tahun untuk bisa muncul di layar lebar memang bukan suatu proses yang mudah. Padahal Wonder Woman bisa dibilang salah satu tokoh ikonik yang populer di dunia, tidak hanya bagi penggemar komik saja. Namun, orang tampaknya lebih percaya tokoh super macho, seperti Batman dan Superman-lah yang lebih bisa menjual. Di tahun 2017 ini, semua berubah saat Patty Jenkins membawa sang demigod ke layar perak. 

Wonder Woman muncul disaat situasi sedang gawat bagi DCEU (DC Extended Universe). Tiga film awal mereka habis menuai caci-maki para penonton yang butuh hiburan receh. Mereka tak terima jika superhero yang mereka banggakan dikondisikan layaknya manusia biasa yang juga punya rasa.  Efeknya terjadi polarisasi pendapat yang berimbas pada suramnya masa depan proyek DCEU. Beban yang sangat berat dipanggul Jenkins bersama sang Wonder Woman, Gal Gadot. Mampukah mereka memuaskan para penggemar setia yang sudah terluka?

Setelah berbagai rumor tidak sedap mengenai proses produksi dan misuh-misuh di belakang layar, Jenkins membalasnya dengan film yang luar biasa.  Berlatar Perang Dunia 1, Wonder Woman menceritakan kisah awal dari sang warrior princess memasuki dunia manusia.  Kenaifan dan keluguan karakter Wonder Woman bisa dibawakan dengan baik oleh Gal Gadot. Tetapi, saat bertempur, Diana juga tampak kuat dan perkasa. Dua sisi mata koin menyatu dengan baik sepanjang film berlangsung. 


Hal terbaik di film ini jujur saja bukanlah aksi heroik sang jagoan mengalahkan lawan-lawannya, tetapi interaksi antarkarakter yang sangat alami dan mengalir dengan baik. Gadot dan Chris Pine memiliki chemistry yang luar biasa. Steve Trevor yang sudah berpengalaman dalam perang harus meladeni tingkah Diana yang naif dan lugu. Dialog mereka memberikan kekuatan saat keduanya berinteraksi. Tak jarang, dialog keduanya memberi senyum simpul serta tawa pada penonton. Tapi yang menjadi scene stealer adalah Lucy Davis sebagai Etta Candy. Setiap kemunculannya pasti memberikan kesan yang kuat.

Tidak hanya itu, tiga serangkai yang menjadi teman petualangan mereka, Sameer (Said Taghmaoui), Charlie (Ewen Bremmer), dan Chief (Eugene Brave Rock) juga memberi interaksi yang membuat film ini menjadi lebih hidup. Masing -masing punya latar belakang dan kemampuan yang unik membuat karakter mereka berarti dan tidak hanya sekedar tempelan. Sangat mirip dengan Captain America dan Howling Commando-nya. 

Karena ini adalah film origin yang menceritakan awal mula Wonder Woman, maka para penulis cerita (Allan Heinberg, Zack Snyder, dan Jason Fuchs) bisa bebas berkreasi tanpa harus terbebani dengan koneksi ke film lain. Walau benang merahnya tentu tidak hilang sama sekali. Perpaduan cerita antara perang yang nyata dengan unsur mitologi dalam dunia Themyscira bisa bergulir dengan baik. Sedikit twist di ujung film memberi konklusi yang memuaskan bagi penggabungan dua dunia. Film ini adalah perjalanan hidup Diana dari kaum Amazon nan lugu hingga merasakan kejamnya dunia. Dari yang percaya semua hal adalah ulah para dewa hingga akhirnya tahu jika hidup adalah pilihan. Proses perjalanan Diana ini akan memberikan banyak rasa saat kalian melihatnya.


Namun, tetap saja tidak ada yang sempurna di dunia ini. Film ini bukannya tanpa kelemahan, ada dan banyak bahkan. Yang paling mencolok adalah durasinya yang sedikit kepanjangan. Harus diakui, setengah jam awal film sangat-sangat membosankan, Tidak sampai membuat kalian mengantuk, tapi rasanya proses  pengenalan Diana dan Themyscira ini harusnya bisa lebih berdinamika daripada hanya pengenalan yang biasa saja. Kaum Amazon yang hanya diperlihatkan selalu latihan dan latihan terasa monoton dan over. Selain itu, Ares yang diplot sebagai musuh utama kurang mendapat latar belakang yang kuat sehingga saat gilirannya muncul seperti hanya untuk menyelesaikan cerita saja.

Dari segi aksi, dibandingkan dengan dua film garapan Snyder, Wonder Woman terasa jauh ketinggalan. Penggunaan slow-motion dalam adegan pertarungan rasanya sudah membosankan dan Wonder Woman melakukannya berulang kali. Harusnya Jenkins mengambil standar pertarungan yang cepat, agresif, dan masif, seperti yang sudah ditampilkan saat Battle of Smallvile di Man of Steel. Dan yang terakhir, tolong kalau sedang bertarung, jangan terlalu banyak mengobrol sehingga menurunkan tensi ketegangan yang sudah dibangun.

Alhasil sebagai film superhero wanita pertama yang juga ditangani oleh sutradara wanita, secara keseluruhan Wonder Woman sukses membuat masa depan DCEU sedikit lebih cerah. Gadot yang tidak pernah terlihat jelek barang sedikitpun sepanjang film ini jelas menjadi nilai plus bagi mata lelaki. Wonder Woman sukses menceritakan perjalanan pengenalan seorang wanita ke dunia nyata yang ternyata tidak seindah bayangannya. Setidaknya, kini penantian untuk Justice League menjadi lebih menyenangkan.