Kartini: Mendobrak Tatanan, Tanpa Melupakan Tradisi

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 434 views

Kartini: Mendobrak Tatanan, Tanpa Melupakan Tradisi
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Perjuangan Kartini dalam mendobrak tatanan yang melarang wanita mendapat pendidikan setara dengan kaum laki-laki pada masanya.

Setiap tanggal 21 April, masyarakat merayakan Hari Kartini. Hari yang identik dengan perjuangan kaum wanita ini kerap dirayakan berbagai sekolah dengan berpakaian daerah ataupun para perusahaan mengharuskan para pegawai wanitanya berbaju kebaya. Namun, merayakan perjuangan sosok Kartini tentu saja lebih dari sekadar berdandan ala Jawa atau menggunakan busana adat masing-masing wilayah. Kartini adalah simbol kesetaraan wanita dalam hal pendidikan dan ilmu pengetahuan tanpa melupakan bakti dan tradisinya terhadap masyarakat mereka berdiam. Itulah yang saya tangkap tertuang dalam film Kartini produksi Legacy Pictures.

Kartini rupanya tidak hanya menyorot pada sekolah yang dibangun anak Bupati Jepara tersebut untuk mencerdaskan wanita-wanita Jawa. Tapi, perkembangan ide dan pemikirannya bisa membuat beliau memutuskan bahwa pendidikan penting untuk seorang wanita Jawa yang di masanya hanya mengenal kata ‘menikah’. Buku pun digambarkan sebagai hal yang sakral dalam film ini karena dapat membawa seseorang keluar dari kungkungan lingkungannya. Semua itu dituangkan secara unik lewat perpindahan adegan dari yang semula di dalam kamar lalu berada di dataran luas.

Meski Dian Sastrowardoyo tidak lemah dalam memerankan Kartini, namun menurut saya yang benar-benar mencuri perhatian adalah Deddy Sutomo, Christine Hakim, dan Djenar Maesa Ayu. Ketiganya penuh emosi dalam memainkan peran masing-masing. Bahkan, mata Christine Hakim  yang berkaca-kaca sebagai Yu Ngasirah mampu menyuarakan kepedihan hatinya tanpa perlu banyak dialog.


Sayang, akting Dian sesekali masih mengingatkan saya dengan karakter Cinta yang memang sudah lekat di dirinya. Saat Kartini menjadi sosok yang rebel atau penuh rasa penasaran terhadap berbagai hal. Sayang, Reza Rahadian dan Adinia Wirasti hanya tampil sekilas meskipun karakter keduanya bisa dikatakan penting.

Tata artistik pun juga menjadi salah satu hal yang saya acungi jempol karena begitu detail dengan nuansa dan benda-benda ala Jawa. Departemen kostum juga menarik karena berhasil menghadirkan perbedaan kebaya yang dipakai oleh pembantu dengan kebaya yang dipakai oleh Raden Ajeng. Namun, kekurangan justru sedikit terasa di sektor musik yang kadang terlalu keras sehingga agak mengganggu.

Tapi, secara keseluruhan, film Kartini jelas sebuah biopik yang berbeda dan membuka mata perempuan-perempuan muda Indonesia bahwa kebebasan yang mereka dapat sekarang ini bukan diperoleh tanpa perjuangan.

Beli tiket di bioskop juga kadang perlu perjuangan, terutama untuk film-film yang ramai penonton seperti Kartini ini. Tapi, sekarang nggak perlu antri lagi karena ada aplikasi Go-Tix by Go-Jek yang bisa bantu pembelian tiket apa pun. Kita cukup duduk manis, ambil ponsel, buka aplikasi, dan pesan tiket yang kita mau. Nggak perlu antri, bisa pilih kursi sendiri, dan yang pasti nggak perlu ribet harus buka komputer karena bisa dilakukan dari ponsel di mana saja dan kapan saja.