Indo Star Trek

by dr. kawe 283 views


Indo Star Trek

Sore itu, blitzmegaplex Paris Van Java diramaikan oleh kedatangan sebagian anggota-anggota Indo Star  Trek. Memang ada acara apa sih? Tentu saja, MisBar (Kamis Nobar) bersama dengan Layar-Tancep. Film yang ditonton apalagi kalau bukan Star Trek Into Darkness. Nah, sambil menunggu pintu studio dibuka, mimin sempat berbincang dengan dua orang anggota senior Indo Star Trek (IST), yaitu Bapak Monang M. Pohan dan Bapak Berthold Sinaulan.

Dengan antusias, Bapak Berthold atau yang akrab disapa Pak Berthy oleh rekan-rekannya ini menceritakan tentang IST. "IST itu berdiri tahun 2003. Namun sebelum itu udah ada komunitas-komunitas kecil, di antaranya di Bandung dan Jakarta. Itu tahun 1990-an. Tapi sempat nggak jalan. Baru mulai ramai lagi 2003 pas ada mailing list. Pada 15 April 2006, kami melakukan kopi darat secara keseluruhan. Tapi, kita tetap menganggap IST berdiri tahun 2003. Pertemuan ini setelah resmi menggunakan nama IST, sebelumnya ada USS Parahyangan, USS Batavia, waktu itu sempat mau dibentuk di Surabaya tapi gak jadi."

Pak Monang menambahkan bahwa karena pada tahun 2003 Indonesia belum mengenal Facebook dan Twitter, maka cara berkomunikasi antaranggota adalah dengan mailing list. "2003 itu masih mailing list, tapi sebelum itu pake pos. Surat-suratan. Kita nge-charge rekan2 Rp20.000 utk mengganti biaya fotokopi dan biaya kirim. Rp20.000 itu dapat newsletter. Kita juga iklan di majalah, di Kawanku dan Gadis." Perihal anggota bisa dibilang cukup banyak, yaitu sekitar 600 orang untuk grup Indo Star Trek dan ada 974 followers untuk akun Twitter-nya sendiri di @IndoStarTrek.

Nah, bagaimana kalau kalian tidak tahu sejarah Star Trek yang sudah muncul sejak tahun 1960-an, tapi ingin bergabung dengan Indo Star Trek? Tidak masalah, Jelata. "Bedanya komunitas ST di Indonesia dengan di Amerika, yaitu kita di sini tidak mewajibkan orang tahu ST. Kalau mereka suka, silakan bergabung. Tidak ada batasan," demikian jelas Pak Monang.

"Untuk pertama, para pemula nonton Star Trek ini dulu. Setelah itu, lama-lama diperkenalkan kepada serial-serial yang terdahulu. Makanya di IST kita ada kegiatan movie screening, yaitu kita putar 1-2 episode serial lama yang menarik untuk diputar ulang untuk sekalian memperkenalkan ST terdahulu kpd generasi muda," kali ini Pak Berthy yang angkat bicara. "Kita di Jakarta minimal 2 bulan sekali ada kegiatan. Ada main game online bareng. Mulai tahun ini juga kita berencana mengadakan Starfleet Academy yang memperkenalkan segala macam tentang Star Trek kepada masyarakat umum. Semacam workshop kecil-kecilan. Rencananya akan diadakan 2 bulan sekali dan untuk yang pertama mulainya 15 Juni di @america." Wuih, kayaknya seru banget kan acaranya. Kebayang dong kita ngumpul di satu tempat dan bisa ngobrol tentang Star Trek dengan para penggemar Star Trek lain, foto-foto, cosplay, hingga tukar informasi soal merchandise.

Pak Monang sendiri mengakui bahwa gagasannya untuk mendirikan komunitas Star Trek berawal pada tahun 1995 silam. "Ketika saya menggagas komunitas dulu, tahun 1995 film Star Trek atau Star Wars dianggap film anak-anak. Kita, orang dewasa, yang ingin nonton jadi agak takut-takut juga. Nah, dari situ saya terpikir bahwa kita butuh wadah di mana kita bisa menunjukkan bahwa kita suka nonton film-film scifi. Idenya dari sini. Saya coba pasang iklan di sana, ternyata atensinya banyak. Dari sini, saya pikir banyak yang penggemar "science fiction in the closet". Mereka suka, tapi diam-diam karena pada saat itu orang masih mencapnya sebagai tontonan anak-anak."

Meski berbentuk organisasi, namun Pak Monang dan Pak Berthy sepakat bahwa pendiri IST itu tidak dapat ditunjuk si A, B, atau C. "Pendiri IST itu banyak, tidak bisa disebut si A, B, atau C. Kalau penggagas mungkin, tapi bukan pendiri. Selain itu, di sini kita tidak ada jabatan ketua atau struktur organisasi. Kalau ada acara, ya dikerjakan bersama-sama atau kalau ada yang punya waktu luang dia yang jalan."

Lalu, apa sih yang membuat Star Trek disukai kedua bapak ini? "Saya senang Star Trek karena filosofinya. Bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan orang beda suku dan bangsa. Asal diatur dengan baik, pasti akan lancar," ungkap Pak Berthy. Pak Monang juga setuju dengan pendapat Pak Berthy, "Kita lihat dari sejarahnya juga. ST ini kan dibuat pada tahun 1960-an, di mana Amerika saat itu masih rasis. Tapi, dalam satu ruangan ada perempuan kulit hitam, orang Rusia, dan ada orang Jepang."

Berbicara tentang sebuah produk film, pasti kita akan menyinggung soal merchandise. Bagaimana dengan Star Trek?  "Kalau dicari di Indonesia, merchandise-nya jarang masuk ke Indonesia. Kalau menurut saya yang paling unik itu adalah teman saya yang punya buku Star Trek dan ditandatangani oleh seluruh pemerannya pada saat konvensi di Amerika. Karena saya, suka mengoleksi kartu, maka bagi saya yang unik itu ya kartu hologram," ungkap Pak Monang sambil menunjukkan sebagian koleksinya yang sempat dibawa. Di antaranya komik, kartu, hingga character figure Uhura.

"Kalau saya perangko karena saya filatelis. Semua prangko & cap Star Trek saya kumpulkan. Dan juga badge-badge Star Trek," Pak Berthy tidak mau kalah memaparkan koleksinya. Sore itu, ia sempat memperlihatkan miniatur USS Enterprise keluaran Hot Wheels yang dibawanya serta.

Terakhir, apa harapan mereka terhadap Star Trek? "Semoga dengan adanya film ini, dan juga udah terbukti, bahwa akan semakin banyak yang menyukai ST. Dan juga, stasiun-stasiun televisi di Indonesia mulai menayangkan kembali Star Trek karena penggemarnya banyak," pungkas keduanya.





 

Artikel Terkait